Sakh Oliabam (SEGERA)


Dentingan logam yang beradu. Darah segar yang berterbangan dari tebasan juga tusukan senjata. Sungai Balia berwarna merah. Alirannya yang nyaris tidak bergerak, membuat darah semakin rapat menutupi setiap sudut air.
Bayangan hitam melesat di udara, keluar dari tengah-tengah gerombolan Dormuz. Sesosok tubuh melayang ringan. Bagaikan waktu yang tiba-tiba terhenti. Gerakannya naik dengan lembut. Sebuah pedang bersinar kemilau di tangan kanannya. Terangkat tinggi di atas kedua tanduk besar yang melingkar di sisi kepalanya, aroma kematian segera menyebar di sekitar besi berukir tebaran bunga di sepanjang mata pedang. Menggenggam erat gagang yang berhias lilitan kawat putih dan permata darah di ujungnya, mata makhluk itu yang menyala merah menatap sosok kurus jauh di bawahnya.

Sep 9, 2011

Melepas Duniawi

Untuk waktu yang cukup lama Christian telah menjalani kehidupan dunia tanpa menjadi miliknya. Perasaan-perasaannya yang bergairah telah dimatikannya selama masa dirinya menjadi seorang musafir, dibangkitkannya kembali. Ia telah merasakan kekayaan, bersenggama dengan nafsu menggila, dan juga kekuasaan, meskipun selama masa itu, tetap ada seorang musafir jauh di lain sisi hatinya. Kaylila yang cerdas sangat mengetahui dan memahami itu. Kehidupan Christian selalu dibimbing oleh seni berpikirnya, penantiannya, kesabaran, doa dan puasanya. Orang-orang di sekelilingnya, orang biasa dan awam di antarany, masih merasa asing dan jauh dari memahami dirinya, sekan dirinya terpisah dari mereka.
Tahun demi tahun berlalu. Dilingkupi suasana yang menyenangkan, Christian hampir tidak melihat berlalunya tahun-tahun itu. Dirinya telah menjadi kaya. Dia yang telah memiliki rumah besarnya sendiri, dilengkapi pelayan-pelayan, serta kebun-kebun di perbatasan kota di tepi sungai. Orang-orang menyukai dirinya. Mereka akan datang padanya saat mereka membutuhkan uang ataupun saran. Namun, pengecualian Kaylila, dirinya tidak memiliki seorangpun teman dekat.
Kesadaran agung dan mulia yang pernah dia alami di masa mudanya, pada hari-hari saat dirinya mendengarkan khotbah Kyai Bahdarudin Syamawi, saat dirinya berpisah dengan Angelina, harapan untuk bisa dengan cepat melihat dan bertindak, kebanggaan dirinya yang bisa berdiri sendiri tanpa seorang guru dan ajaran-ajarannya, keinginan yang besar yang telah disiapkannya agar mampu mendengarkan suara mulia di dalam hatinya; semuanya pelan-pelan, waktu demi waktu telah menjadi kenangan, telah berlalu. Semua yang dulu menjadi sumber mata air dalam dirinya, yang diserukannya dengan begitu kuat dalam dirinya, kini menjadi gumamam lembut di kejauhan. Namun, dirinya telah mepelajari banyak hal dari para musafir, Kyai Bahdarudin Syamawi, ayahnya, dan juga sang pendeta ayahnya Angelina. Semua itu telah disimpannya untuk waktu yang lama dalam dirinya; kecukupan dalam hidup, kesenangan dalam berpikir, jam-jam menenangkan saat dirinya melawan keinginan duniawi, pengetahuan rahasia tentang diri, menjadi tunggal sebagai diri yang abadi, bukan sebagai badan juga bukan pula kesadaran. Banyak dari semua hal telah disimpannya; sedangkan yang sisanya setengah muncul dan mulai tertutup debu. Seperti roda kayu yang berputar tempat membuat gerabah, yang sekali waktu digerakkan akan lama berputarnya, kemudian dengan pelan-pelan berputar lalu berhenti, begitulah pula rodanya para musafir, roda yang berpikir. Roda perbedaan masih berputar untuk beberapa waktu yang lama di dalam jiwa Christian; roda itu masih terus berputar tetapi dengan pelan dan agak tersendat-sendat, dan kini hampir tiba pada titik henti. Dengan pelan, seperti embun yang menyerap ke dalam batang pohon yang mati, yang lalu dengan pelan mengisi dan membusukkannya, begitulah dunia dan segalanya menyerap ke dalam jiwa Christian, memberati jiwanya, meletihkan jiwanya, menidurkan jiwanya, lelap. Tetapi, di sisi lain perasaan-perasaannya menjadi lebih tersadarkan, perasaan-perasaan itu belajar lebih banyak, dan menjadi lebih berpengalaman.
Christian telah mempelajari cara melakukan transaksi bisnis, melatih kekuasaan atas orang, menghibur dirinya dengan perempuan-perempuan. Dia telah belajar mengenakan pakaian indah, memerintah para pelayan, mandi dalam air berbusa dan beraroma harum. Dia belajar menikmati hidangan lezat yang disajikan padanya dengan hati-hati, juga ikan, daging, unggas, rempah-rempah dan aroma penyedap lainnya, serta minum anggur yang membuat dirinya menjadi pemalas dan pelupa. Dia telah belajar bermain dadu dan catur, melihat penari meliukkan tubuh dan menggoyangkan pinggul, serta tidur di atas kasur yang empuk. Kemudian dia mulai merasa berbeda dan lebih tinggi dibandingkan orang lain; dia selalu memandang dengan gaya meremehkan, dengan sedikit penghinaan dan ejekan, dengan ejekan yang dirasakannya saat menjadi musafir oleh orang-orang awam. Saat Yohanes merasa kecewa, saat Yohanes merasa dirinya telah dihina, atau seandainya dirinya sedang kesulitan dalam masalah-masalah bisnisnya, Christian selalu menanggapinya dengan sedikit menghina.
Dengan pelan dan tidak terasa, dengan berlalunya waktu, penghinaan dan perasaan tingginya perlahan menghilang. Pelan-pelan, sejalan dengan dirinya terus bertambah kaya, Christian merasa dirinya membutuhkan sedikit sifat orang biasa, sedikit sifat kekanak-kanakan mereka, dan sedikit kecemasan mereka. Dan, dia mulai merasa cemburu kepada mereka. Semakin besarnya keinginan untuk bisa seperti mereka, semakin besar pula rasa cemburunya kepada mereka. Dia menjadi cemburu kepada mereka dikarenakan mereka memiliki sesuatu yang menjadi kekurangannya; rasa penting dalam hidup yang mereka jalani, ke dalam kesenangan dan kesedihan yang mereka rasakan. Sebentuk kebahagiaan mereka yang mencemaskan dan sekaligus manis dari rasa cinta yang berkesinambungan. Orang-orang ini yang saling mencintai di antara mereka, dengan pasangan mereka, anak-anak mereka, dengan sebentuk kemuliaan dan hartanya, dengan segala rencana-rencana dan harapan-harapan. Sayang sekali, keseluruhan ini atau sedikitnya tidak ada yang dia pelajari dari mereka; yakni segala kekanak-kanakan dan kebodohan mereka. Dia hanya mempelajari hal-hal yang tidak menyenangkan dari mereka yang biasanya telah dia cemoohkan. Keseringan yang terjadi pada dirinya hanyalah; sesudah malam panjang yang menggembirakan, dia akan terlelap tidur, dan pagi berikutnya dia akan merasa letih dan otaknya menjadi semakin tumpul. Dia lalu akan menjadi lebih jengkel dan tidak sabar saat Yohanes datang padanya, lalu membosankan dirinya dengan segala kekhawatirannya.
Di lain waktu, dia akan tertawa terbahak-bahak saat dirinya kalah bermain judi, - meskipun saat itu wajahnya tetap terlihat lebih cerdas dan intelektual dibandingkan orang lain – karena dia jarang tertawa. Dan, lambat laun wajahnya mulai memancarkan kepura-puraan yang begitu sering terlihat pada wajah orang-orang kaya. Wajahnya menunjukkan perasaan tidak senang, kesakitan, tidak puas, kemalasan, dan ketiadaan cinta. Perlahan, kesakitan jiwa orang-orang kaya itu merayap ke dalam dirinya.
Seperti kabut tipis, keletihan mulai bersemayam dalam diri Christian, dan setiap harinya kabut itu semakin tebal sedikit, hari ke hari, bulan demi bulan menjadi hitam sedikit, lalu setiap tahunnya menjadi bertambah sedikit. Seperti layaknya pakaian baru yang menjadi kusam bersamaan dengan waktu, kehilangan warnanya yang cerah, menjadi bernoda dan lusuh, kerahnya berbulu, dan di sana-sini menjadi gampang robek dan kainnya menjadi tipis. Begitu pula hidup Christian yang telah dimulainya sesudah berpisah dengan Angelina; menjadi tua. Dengan cara yang sama pula, dirinya menjadi kehilangan warna dan kemilaunya sejalan dengan lewatnya tahun-tahun. Kerutan-kerutan dan noda bermunculan, lalu bersembunyi di kedalaman. Di dirinya mulai muncul bentuk-bentuk kemuakan dan kekecewaan. Christian tidak menyadarinya, karena suara dari dalam dirinya, yang ceria dan jelas, yang dulu menyadarkannya dan yang telah selalu membimbingnya pada setiap jam terbaiknya, kini, telah diam.
Dunia telah menggenggamnya; kenikmatan, kekayaan, kemalasan, dan akhirnya termasuk sifat buruk yang selalu dia cemoohkan dan remehkan sebagai yang paling bodoh dan rendah: ketamakan. Tanak milik, barang milik, dan kekayaan pada akhirnya juga memerangkap dirinya. Barang-barang itu bukan lagi permainan bagi dirinya. Barang-barang itu telah menjadi rantai yang membelenggunya dan kemudian membebaninya.
Christian berkelana sepanjang lereng curam terakhir dan paling dasar, yang penuh liku dan asing, melalui segala bentuk perjuadian. Sejak dirinya berhenti menjadi musafir, Christian telah bermain judi untuk mendapatkan uang dan perhiasan dengan kegairahan yang terus meningkat. Sebuah permainan yang sebelumnya hanya diikutinya dengan senyuman dan sedikit kepuasan sebagai suatu kebiasaan orang-orang awam, kini dirinya telah menjadi pemain berat. Hanya sedikit sekali yang berani bermain dengan dirinya, karena taruhannya begitu tinggi dan sembrono. Dia bermain judi hanya untuk memuaskan hatinya, dan dirinya menikmati saat menghabiskan uang-uangnya. Tidak ada cara penghinaan yang lebih rendah untuk memperlihatkan dengan jelas bahwa dirinya begitu mudah memperoleh kekayaan. Oleh karena itu, dia bertaruh tinggi-tinggi dan dengan royal, lalu setelahnya dia akan membenci dirinya sendiri, mengejek dirinya sendiri. Dia menang jutaan, lalu dia mebuang jutaan juga. Kehilangan uang, kehilangan perhiasan, kehilangan rumahnya di kota, menang lagi lalu kalah lagi. Dia mencintai kecemasan itu, kecemasan yang begitu mengerikan dan menyesakkan yang dia alami selama bermain judi, dalam ketegangan taruhan besar. Dia begitu mencintai perasaan ini dan terus-menerus mencari perjudian untuk memperbaruinya, untuk meningkatkan dan merangsangnya, karena di dalam perasaan ini sendiri dirinya benar-benar mengalami kebahagiaan, sedikit kepuasan, sedikit kehidupan yang berbeda di tengah-tengah kehidupannya yang hambar.
Sesudah kekalahan-kekalahan besarnya, dia lalu akan mencurahkan dirinya pada usaha untuk kembali mendapatkan kekayaan, dengan sungguh-sungguh menjalankan bisnisnya dan menekan para pengutang untuk segera melunasi hutang-hutangnya, karena dirinya begitu ingin bermain lagi, dia ingin kembali menghabiskan uang-uangnya. Christian seolah menjadi tidak sabar untuk kembali menikmati kekalahannya. Dia mulai kehilangan kesabarannya, dia mulai merasa jijik dengan pembayaran yang lambat dari para pengutang. Dia tidak lagi bermurah hati pada pengemis. Dia juga tidak lagi mempunyai keinginan untuk memberi hadiah dan pinjaman pada orang-orang miskin.
Dia yang bertaruh jutaan pada sekali lemparan dadu, menjadi keras dan licik dalam bisnis. Terkadang dirinya bermimpi mendapatkan uang di tengah malam. Dan, bila dia tersadar dari pesona yang menyakitkan itu, dia akan melihat wajahnya pada cermin di dinding kamar tidurnya menjadi lebih tua dan makin buruk. Saat itu perasaan malu dan muak akan mendahului menguasai dirinya. Lalu, dia akan melarikan diri lagi, melarikan diri pada taruhan dan permainan baru. Dia akan melarikan diri pada bentuk kegairahan yang membingungkan; judi, anggur, dan menghabiskan malam dengan bersenggama dengan perempuan-perempuan, tertidur, lalu terbangun. Kemudian dia akan kembali pada dorongan mencapai kekayaan dan terus ditimbun. Dia terus kehilangan dirinya dalam lingkaran tidak berperasaan ini, menjadi tua lalu sakit.
Pernah sebuah mimpi memperingatkannya. Dia melihat dirinya sedang bersama-sama Kaylila pada suatu malam, di dalam kebunnya yang sangat menyenangkan. Mereka duduk di bawah pohon sambil berbincang. Kaylila sedang berbicara dengan raut wajah sungguh-sungguh, akan tetapi di balik kata-katanya tersembunyi kegundahan dan keletihan. Dia telah bertanya mengenai Kyai Bahdarudin Syamawi, karena dirinya tidak mendapat cukup cerita tentangnya, betapa jernih pandangannya, betapa indah tutur katanya, betapa anggun senyumnya, betapa damai keseluruhan tabiatnya. Lama sekali Kaylila berbicara tentang pria itu. Lalu Kaylila menarik napas panjang dan berkata, “Suatu hari, mungkin segera, aku akan menjadi pengikut pria ini, mejadi jemaatnya. Aku akan memberikan padanya seluruh hartaku, kebunku yang menyenangkan dan aku akan berlindung dalam ajaran-ajarannya.” Setelah berbicara, Kaylila lalu memikatnya, dan dalam permainan cinta, Kaylila memeluk dirinya erat-erat dengan kegairahan yang luar biasa, dahsyat, dan desahan sedih, seakan-akan dirinya begitu ingin menyarikan tetesan manis terakhir dari kenikmatan yang mulai berlalu. Tidak pernah dilihat oleh Christian bahwa hubungan gairah dan kematian bisa begitu dekat. Lalu, Christian berbaring di dekatnya, dan wajah Kaylila di dekatkan dengan wajahnya. Di bawah mata Kaylila dan dekat sudut-sudut bibirnya, untuk pertama kali dengan jelasnya ia membaca tanda kesedihan – garis-garis yang bagus dan kerut-merut, sebuah pertanda datangnya musim gugur tua. Christian sendiri yang baru berusia tiga puluh enam, telah melihat di sana-sini adanya uban pada rambutnya yang hitam. Keletihan telah tertulis pada wajah Kaylila yang cantik, sebentuk keletihan dari jalan panjang yang berkesinambungan dan tidak mempunyai tujuan yang menggembirakan. Keletihan dan usia tua yang baru mulai, tersembunyi, serta belum terungkap, barangkali kecemasan yang belum tersadarkan; kecemasan senja kehidupan, kecemasan usia tua, kecemasan akan kematian. Setelah menarik napas panjang, dirinya meninggalkan Kaylila. Hatinya dipenuhi kesengsaraan dan kecemasan yang terselubung.
Malam-malam sesudahnya, Christian kembali melewatkan harinya dengan para penari dan anggur. Sesudahnya dengan akan mengambil satu, dua atau beberapa penari untuk bersenggama dengan mereka.
Dia lalu berpura-pura lebih tinggi dari teman-temannya, yang sebenarnya tidak lagi demikian. Dia telah meminum banyak anggur, dan bersenggama. Kemudian larut malam dia akan tertidur, letih dan selalu gelisah, hampir menangis dan putus asa. Dia mulai sulit tidur, dan gagal mencoba tidur. Hatinya mulai dipenuhi kesengsaraan. Dia mulai merasa tidak dapat lagi menanggungnya. Kemuakan menggagahi dirinya seperti anggur yang tidak enak, atau seperti musik yang terlalu dangkal dan manis, atau seperti senyum para penari yang palsu, atau wanginya rambut, manisnya payudara dan nikmatnya lubang surga mereka. Tetapi, di atas semuanya, sesungguhnya dia dimuakkan oleh dirinya sendiri, oleh wewangian dari rambutnya, oleh bau anggur dari mulutnya, oleh penampilan kulitnya yang lembek. Seperti orang yang makan dan minum terlalu banyak, lalu dia akan muntah dengan rasa yang sakit sekali, kemudian dia akan merasa lebih baik; seperti itulah keinginan manusia yang tidak henti-hentinya yang mampu menghancurkannya dengan kekuatan yang luar biasa.
Pada pergantian hari, saat dirinya berjalan ke luar kota, berkunjung ke daerah-daerah, saat itulah dia bisa tertidur – suatu kemungkinan tertidur – dan mempunyai setengah kesadaran. Pada saat itulah dirinya kembali bermimpi.
Kaylila mempunyai seekor burung kenari kecil yang langka dalam kurungan emas. Burung itulah yang menjadi mimpinya. Burung ini yang biasanya berkicau di pagi hari, menjadi bisu. Hal ini mengejutkan dirinya, dia meraih kurungan dan melihat ke dalamnya. Burung mungil itu telah mati dan terbaring kaku di lantai kurungan. Dia mengeluarkannya, menggenggamnya sebentar, lalu melemparkannya ke jalan raya. Dan, pada saat yang bersaamaan dia merasa ketakutan dan sakit hatinya, seolah-olah dirinya telah terlempar bersama-sama burung mati itu bersamaan dengan segala kebaikan dan nilai dalam dirinya.
Terjaga dari mimpi itu, Christian diliputi rasa sedih yang begitu dalam. Kesadaran mengantarkan pikiran-pikirannya untuk merasakan; bahwa dirinya telah menggunakan hidupnya dalam sikap tidak berharga dan tidak berperasaan. Dia tidak sedikitpun mencapai sesuatu yang penting. Tidak ada yang berharga atau bernilai yang telah dicapainya. Dia termenung sendirian.
Dengan sedih, Christian pergi ke kebunnya yang indah dan menyenangkan. Di dekat gerbang dia duduk di bawah pohon ketapang. Hatinya merasa ketakutan akan kematian. Dia duduk dan merasakan dirinya hampir mati, remuk, dan seolah kiamat akan tiba.
Perlahan-lahan dia kumpulkan pikiran-pikirannya, dan secara batin dia mulai menelusuriseluruh kehidupannya, sejak dari hari-hari awal yang dapat diingatnya. Bilakah dia telah benar-benar merasa bahagia? Kapankah dia benar-benar mengalami kegembiraan? Lalu, perlahan dalam hatinya dia mulai merasakan: “Sebuah jalan terbentang di hadapan yang harus kembali dicarinya untuk kemudia diikutinya. Jalan dengan bimbingan Tuhan.”
Hari-hari saat dirinya menjadi pemuda yang terus-menerus memiliki perasaan dan pikiran yang memuncak, mendorongnya untuk mencari ilmu dari para orang bijaksana. Saat dimana dirinya telah belajar banyak dari sang pendeta, masuknya segala pengetahuan segar yang terus menimbulkan kehausan baru, dan lalu di tengah kehausan ini mendorongnya untuk terus maju dan maju, inilah jalanmu. Dia mendengar suara dari dalam diri berkali-kali. Mendengarnya saat dirinya memutuskan mengikuti para musafir, hari dimana dia meninggalkan rumah. Lalu, saat dirinya meninggalkan para musafir untuk mendatangi Kyai Bahdarudin Syamawi, dan juga hari dimana dia telah meninggalkan pria itu untuk sesuatu yang tidak diketahuinya. Berapa lama sejak hari itu hingga saat dia melonjak ke sesuatu yang tinggi?
Lalu kini, betapa hambar dan tandusnya jalan yang telah ditempuh. Betapa lamanya dia telah melewatkan tahun-tahun tanpa tujuan yang agung, tanpa kehausan apapun, tanpa kemuliaan. Hanya terisi kesenangan-kesenangan kecil dan tidak pernah menjadi benar-benar puas. Tanpa menyadari hal tersebut, dia telah berupaya keras untuk menjadi seperti orang lain, dan kemudian hidupnya mulai menjadi lebih banyak sial dan lebih miskin dibandingkan mereka, karena sesungguhnya tujuan mereka bukanlah tujuan dirinya, dan kesedihan mereka bukanlah kesedihan dirinya. Dunianya saat ini, yang seluruhnya menjadi dunianya orang-orang Yohanes, semula hanyalah permainan baginya, sebuah tarian, sebuah komedi yang ditonton semua orang.
Semula hanyalah Kaylila yang berharga baginya, begitu bernilai baginya – tetapi masihkah demikian? Masihkah dirinya memerlukan Kaylila, dan masihkah Kaylila membutuhkan dirinya? Bukankah mereka hanya menjalankan permainan tanpa akhir? Perlukah hidup yang seperti ini? Tidak. Permainan ini adalah bentuk kesengsaraan, sebuah permainan yang barangkali terasa menyenangkan bila dimainkan sekali, dua kali, sepuluh kali – tetapi, bergunakah memainkannya secara terus-menerus?
Kemudian Christian menyadari bahwa permainan itu telah berakhir, bahwa dia tidak dapat memainkannya lagi. Ketakutan menyelinap dalam dirinya. Dia lalu merasakan seolah-olah sesuatu telah mati.
Sepanjang hari dia duduk di bawah pohon ketapang, memikirkan ayahnya, Angelina, memikirkan Kyai Bahdarudin Syamawi. Benarkah dia telah meninggalkan semua itu demi menjadi seorang Yohanes? Dia duduk di sana hingga malam menaungi langit. Ketika menengadah dan melihat gemerlap bintang, Christian berpikir, aku duduk di sini,di bawah pohon ketapang, di kebunku yang indah dan menyenangkan. Dia lalu tersenyum sedikit. Perlukah ini, benarkah ini, bukankah hal ini bodoh; aku harus memiliki sebatang pohon ketapang dan sebuah kebun agar aku dapat menikmati bintang?
Dengan pikiran di benaknya itu, dia telah mengakhiri semuanya. Dirinya yang menjadi seperti Yohanes pun telah mati. Dia lalu berdiri, mengucapkan selamat tinggal pada pohon ketapang dan kebunnya yang menyenangkan. Karena dia belum menyentuh makanan sedikit pun, dia kemudian merasa sangat lapar, dan memikirkan rumahnya yang ada di kota, kamarnya dan juga tempat tidurnya, mejanya yang besar berhiaskan hidangan yang lezat. Dengan sangat letih dia tersenyum, menggelengkan kepalanya, dan mengucapkan selamat tinggal pada semua barang itu.
Pada malam yang sama, Christian telah meninggalkan kebun dan kotanya, dan dia tidak pernah kembali. Lama sekali Yohanes berusaha mencarinya, karena dia berpikir bahwa Christian telah jatuh ke tangan penjahat. Sementara itu, Kaylila tidak sedikit pun berusaha mencarinya. Dia tidak heran dan terkejut saat mengetahui Christian telah hilang. Dia telah mengetahui hal ini sejak lama. Bukankan dirinya adalah seorang musafir, tanpa rumah, seorang pengembara? Kaylila merasa sakit yang melebihi saat pertemuan terakhir mereka. Namun, dalam kesakitannya karena kehilangan Christian, dia merasa bahagia karena telah memeluknya erat-erat hingga begitu dekat dengan jantungnya. Dirinya merasa telah begitu dimiliki dan benar-benar dikuasai oleh Christian.
Saat pertama kali dirinya mendengar kabar tentang hilangnya Christian, Kaylila pergi ke jendela tempat dia mengurung burung kenarinya yang langka dalam sangkar emas. Dia membuka pintu sarang, mengeluarkan burung itu, mengelusnya sejenak, lalu membiarkannya terbang. Telah begitu lama Kaylila memelihara burung yang kini terbang itu. Sejak saat itu pula, dia tidak lagi menerima tamu-tamu dan menutup rapat rumahnya. Beberapa waktu kemudian, Kaylila mengetahui impiannya menjadi kenyataan, dari hubungan terakhirnya dengan Christian, dia kini mengandung seorang bayi.

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More