Sakh Oliabam (SEGERA)


Dentingan logam yang beradu. Darah segar yang berterbangan dari tebasan juga tusukan senjata. Sungai Balia berwarna merah. Alirannya yang nyaris tidak bergerak, membuat darah semakin rapat menutupi setiap sudut air.
Bayangan hitam melesat di udara, keluar dari tengah-tengah gerombolan Dormuz. Sesosok tubuh melayang ringan. Bagaikan waktu yang tiba-tiba terhenti. Gerakannya naik dengan lembut. Sebuah pedang bersinar kemilau di tangan kanannya. Terangkat tinggi di atas kedua tanduk besar yang melingkar di sisi kepalanya, aroma kematian segera menyebar di sekitar besi berukir tebaran bunga di sepanjang mata pedang. Menggenggam erat gagang yang berhias lilitan kawat putih dan permata darah di ujungnya, mata makhluk itu yang menyala merah menatap sosok kurus jauh di bawahnya.

Sep 9, 2011

Melepas Duniawi

Untuk waktu yang cukup lama Christian telah menjalani kehidupan dunia tanpa menjadi miliknya. Perasaan-perasaannya yang bergairah telah dimatikannya selama masa dirinya menjadi seorang musafir, dibangkitkannya kembali. Ia telah merasakan kekayaan, bersenggama dengan nafsu menggila, dan juga kekuasaan, meskipun selama masa itu, tetap ada seorang musafir jauh di lain sisi hatinya. Kaylila yang cerdas sangat mengetahui dan memahami itu. Kehidupan Christian selalu dibimbing oleh seni berpikirnya, penantiannya, kesabaran, doa dan puasanya. Orang-orang di sekelilingnya, orang biasa dan awam di antarany, masih merasa asing dan jauh dari memahami dirinya, sekan dirinya terpisah dari mereka.
Tahun demi tahun berlalu. Dilingkupi suasana yang menyenangkan, Christian hampir tidak melihat berlalunya tahun-tahun itu. Dirinya telah menjadi kaya. Dia yang telah memiliki rumah besarnya sendiri, dilengkapi pelayan-pelayan, serta kebun-kebun di perbatasan kota di tepi sungai. Orang-orang menyukai dirinya. Mereka akan datang padanya saat mereka membutuhkan uang ataupun saran. Namun, pengecualian Kaylila, dirinya tidak memiliki seorangpun teman dekat.
Kesadaran agung dan mulia yang pernah dia alami di masa mudanya, pada hari-hari saat dirinya mendengarkan khotbah Kyai Bahdarudin Syamawi, saat dirinya berpisah dengan Angelina, harapan untuk bisa dengan cepat melihat dan bertindak, kebanggaan dirinya yang bisa berdiri sendiri tanpa seorang guru dan ajaran-ajarannya, keinginan yang besar yang telah disiapkannya agar mampu mendengarkan suara mulia di dalam hatinya; semuanya pelan-pelan, waktu demi waktu telah menjadi kenangan, telah berlalu. Semua yang dulu menjadi sumber mata air dalam dirinya, yang diserukannya dengan begitu kuat dalam dirinya, kini menjadi gumamam lembut di kejauhan. Namun, dirinya telah mepelajari banyak hal dari para musafir, Kyai Bahdarudin Syamawi, ayahnya, dan juga sang pendeta ayahnya Angelina. Semua itu telah disimpannya untuk waktu yang lama dalam dirinya; kecukupan dalam hidup, kesenangan dalam berpikir, jam-jam menenangkan saat dirinya melawan keinginan duniawi, pengetahuan rahasia tentang diri, menjadi tunggal sebagai diri yang abadi, bukan sebagai badan juga bukan pula kesadaran. Banyak dari semua hal telah disimpannya; sedangkan yang sisanya setengah muncul dan mulai tertutup debu. Seperti roda kayu yang berputar tempat membuat gerabah, yang sekali waktu digerakkan akan lama berputarnya, kemudian dengan pelan-pelan berputar lalu berhenti, begitulah pula rodanya para musafir, roda yang berpikir. Roda perbedaan masih berputar untuk beberapa waktu yang lama di dalam jiwa Christian; roda itu masih terus berputar tetapi dengan pelan dan agak tersendat-sendat, dan kini hampir tiba pada titik henti. Dengan pelan, seperti embun yang menyerap ke dalam batang pohon yang mati, yang lalu dengan pelan mengisi dan membusukkannya, begitulah dunia dan segalanya menyerap ke dalam jiwa Christian, memberati jiwanya, meletihkan jiwanya, menidurkan jiwanya, lelap. Tetapi, di sisi lain perasaan-perasaannya menjadi lebih tersadarkan, perasaan-perasaan itu belajar lebih banyak, dan menjadi lebih berpengalaman.
Christian telah mempelajari cara melakukan transaksi bisnis, melatih kekuasaan atas orang, menghibur dirinya dengan perempuan-perempuan. Dia telah belajar mengenakan pakaian indah, memerintah para pelayan, mandi dalam air berbusa dan beraroma harum. Dia belajar menikmati hidangan lezat yang disajikan padanya dengan hati-hati, juga ikan, daging, unggas, rempah-rempah dan aroma penyedap lainnya, serta minum anggur yang membuat dirinya menjadi pemalas dan pelupa. Dia telah belajar bermain dadu dan catur, melihat penari meliukkan tubuh dan menggoyangkan pinggul, serta tidur di atas kasur yang empuk. Kemudian dia mulai merasa berbeda dan lebih tinggi dibandingkan orang lain; dia selalu memandang dengan gaya meremehkan, dengan sedikit penghinaan dan ejekan, dengan ejekan yang dirasakannya saat menjadi musafir oleh orang-orang awam. Saat Yohanes merasa kecewa, saat Yohanes merasa dirinya telah dihina, atau seandainya dirinya sedang kesulitan dalam masalah-masalah bisnisnya, Christian selalu menanggapinya dengan sedikit menghina.
Dengan pelan dan tidak terasa, dengan berlalunya waktu, penghinaan dan perasaan tingginya perlahan menghilang. Pelan-pelan, sejalan dengan dirinya terus bertambah kaya, Christian merasa dirinya membutuhkan sedikit sifat orang biasa, sedikit sifat kekanak-kanakan mereka, dan sedikit kecemasan mereka. Dan, dia mulai merasa cemburu kepada mereka. Semakin besarnya keinginan untuk bisa seperti mereka, semakin besar pula rasa cemburunya kepada mereka. Dia menjadi cemburu kepada mereka dikarenakan mereka memiliki sesuatu yang menjadi kekurangannya; rasa penting dalam hidup yang mereka jalani, ke dalam kesenangan dan kesedihan yang mereka rasakan. Sebentuk kebahagiaan mereka yang mencemaskan dan sekaligus manis dari rasa cinta yang berkesinambungan. Orang-orang ini yang saling mencintai di antara mereka, dengan pasangan mereka, anak-anak mereka, dengan sebentuk kemuliaan dan hartanya, dengan segala rencana-rencana dan harapan-harapan. Sayang sekali, keseluruhan ini atau sedikitnya tidak ada yang dia pelajari dari mereka; yakni segala kekanak-kanakan dan kebodohan mereka. Dia hanya mempelajari hal-hal yang tidak menyenangkan dari mereka yang biasanya telah dia cemoohkan. Keseringan yang terjadi pada dirinya hanyalah; sesudah malam panjang yang menggembirakan, dia akan terlelap tidur, dan pagi berikutnya dia akan merasa letih dan otaknya menjadi semakin tumpul. Dia lalu akan menjadi lebih jengkel dan tidak sabar saat Yohanes datang padanya, lalu membosankan dirinya dengan segala kekhawatirannya.
Di lain waktu, dia akan tertawa terbahak-bahak saat dirinya kalah bermain judi, - meskipun saat itu wajahnya tetap terlihat lebih cerdas dan intelektual dibandingkan orang lain – karena dia jarang tertawa. Dan, lambat laun wajahnya mulai memancarkan kepura-puraan yang begitu sering terlihat pada wajah orang-orang kaya. Wajahnya menunjukkan perasaan tidak senang, kesakitan, tidak puas, kemalasan, dan ketiadaan cinta. Perlahan, kesakitan jiwa orang-orang kaya itu merayap ke dalam dirinya.
Seperti kabut tipis, keletihan mulai bersemayam dalam diri Christian, dan setiap harinya kabut itu semakin tebal sedikit, hari ke hari, bulan demi bulan menjadi hitam sedikit, lalu setiap tahunnya menjadi bertambah sedikit. Seperti layaknya pakaian baru yang menjadi kusam bersamaan dengan waktu, kehilangan warnanya yang cerah, menjadi bernoda dan lusuh, kerahnya berbulu, dan di sana-sini menjadi gampang robek dan kainnya menjadi tipis. Begitu pula hidup Christian yang telah dimulainya sesudah berpisah dengan Angelina; menjadi tua. Dengan cara yang sama pula, dirinya menjadi kehilangan warna dan kemilaunya sejalan dengan lewatnya tahun-tahun. Kerutan-kerutan dan noda bermunculan, lalu bersembunyi di kedalaman. Di dirinya mulai muncul bentuk-bentuk kemuakan dan kekecewaan. Christian tidak menyadarinya, karena suara dari dalam dirinya, yang ceria dan jelas, yang dulu menyadarkannya dan yang telah selalu membimbingnya pada setiap jam terbaiknya, kini, telah diam.
Dunia telah menggenggamnya; kenikmatan, kekayaan, kemalasan, dan akhirnya termasuk sifat buruk yang selalu dia cemoohkan dan remehkan sebagai yang paling bodoh dan rendah: ketamakan. Tanak milik, barang milik, dan kekayaan pada akhirnya juga memerangkap dirinya. Barang-barang itu bukan lagi permainan bagi dirinya. Barang-barang itu telah menjadi rantai yang membelenggunya dan kemudian membebaninya.
Christian berkelana sepanjang lereng curam terakhir dan paling dasar, yang penuh liku dan asing, melalui segala bentuk perjuadian. Sejak dirinya berhenti menjadi musafir, Christian telah bermain judi untuk mendapatkan uang dan perhiasan dengan kegairahan yang terus meningkat. Sebuah permainan yang sebelumnya hanya diikutinya dengan senyuman dan sedikit kepuasan sebagai suatu kebiasaan orang-orang awam, kini dirinya telah menjadi pemain berat. Hanya sedikit sekali yang berani bermain dengan dirinya, karena taruhannya begitu tinggi dan sembrono. Dia bermain judi hanya untuk memuaskan hatinya, dan dirinya menikmati saat menghabiskan uang-uangnya. Tidak ada cara penghinaan yang lebih rendah untuk memperlihatkan dengan jelas bahwa dirinya begitu mudah memperoleh kekayaan. Oleh karena itu, dia bertaruh tinggi-tinggi dan dengan royal, lalu setelahnya dia akan membenci dirinya sendiri, mengejek dirinya sendiri. Dia menang jutaan, lalu dia mebuang jutaan juga. Kehilangan uang, kehilangan perhiasan, kehilangan rumahnya di kota, menang lagi lalu kalah lagi. Dia mencintai kecemasan itu, kecemasan yang begitu mengerikan dan menyesakkan yang dia alami selama bermain judi, dalam ketegangan taruhan besar. Dia begitu mencintai perasaan ini dan terus-menerus mencari perjudian untuk memperbaruinya, untuk meningkatkan dan merangsangnya, karena di dalam perasaan ini sendiri dirinya benar-benar mengalami kebahagiaan, sedikit kepuasan, sedikit kehidupan yang berbeda di tengah-tengah kehidupannya yang hambar.
Sesudah kekalahan-kekalahan besarnya, dia lalu akan mencurahkan dirinya pada usaha untuk kembali mendapatkan kekayaan, dengan sungguh-sungguh menjalankan bisnisnya dan menekan para pengutang untuk segera melunasi hutang-hutangnya, karena dirinya begitu ingin bermain lagi, dia ingin kembali menghabiskan uang-uangnya. Christian seolah menjadi tidak sabar untuk kembali menikmati kekalahannya. Dia mulai kehilangan kesabarannya, dia mulai merasa jijik dengan pembayaran yang lambat dari para pengutang. Dia tidak lagi bermurah hati pada pengemis. Dia juga tidak lagi mempunyai keinginan untuk memberi hadiah dan pinjaman pada orang-orang miskin.
Dia yang bertaruh jutaan pada sekali lemparan dadu, menjadi keras dan licik dalam bisnis. Terkadang dirinya bermimpi mendapatkan uang di tengah malam. Dan, bila dia tersadar dari pesona yang menyakitkan itu, dia akan melihat wajahnya pada cermin di dinding kamar tidurnya menjadi lebih tua dan makin buruk. Saat itu perasaan malu dan muak akan mendahului menguasai dirinya. Lalu, dia akan melarikan diri lagi, melarikan diri pada taruhan dan permainan baru. Dia akan melarikan diri pada bentuk kegairahan yang membingungkan; judi, anggur, dan menghabiskan malam dengan bersenggama dengan perempuan-perempuan, tertidur, lalu terbangun. Kemudian dia akan kembali pada dorongan mencapai kekayaan dan terus ditimbun. Dia terus kehilangan dirinya dalam lingkaran tidak berperasaan ini, menjadi tua lalu sakit.
Pernah sebuah mimpi memperingatkannya. Dia melihat dirinya sedang bersama-sama Kaylila pada suatu malam, di dalam kebunnya yang sangat menyenangkan. Mereka duduk di bawah pohon sambil berbincang. Kaylila sedang berbicara dengan raut wajah sungguh-sungguh, akan tetapi di balik kata-katanya tersembunyi kegundahan dan keletihan. Dia telah bertanya mengenai Kyai Bahdarudin Syamawi, karena dirinya tidak mendapat cukup cerita tentangnya, betapa jernih pandangannya, betapa indah tutur katanya, betapa anggun senyumnya, betapa damai keseluruhan tabiatnya. Lama sekali Kaylila berbicara tentang pria itu. Lalu Kaylila menarik napas panjang dan berkata, “Suatu hari, mungkin segera, aku akan menjadi pengikut pria ini, mejadi jemaatnya. Aku akan memberikan padanya seluruh hartaku, kebunku yang menyenangkan dan aku akan berlindung dalam ajaran-ajarannya.” Setelah berbicara, Kaylila lalu memikatnya, dan dalam permainan cinta, Kaylila memeluk dirinya erat-erat dengan kegairahan yang luar biasa, dahsyat, dan desahan sedih, seakan-akan dirinya begitu ingin menyarikan tetesan manis terakhir dari kenikmatan yang mulai berlalu. Tidak pernah dilihat oleh Christian bahwa hubungan gairah dan kematian bisa begitu dekat. Lalu, Christian berbaring di dekatnya, dan wajah Kaylila di dekatkan dengan wajahnya. Di bawah mata Kaylila dan dekat sudut-sudut bibirnya, untuk pertama kali dengan jelasnya ia membaca tanda kesedihan – garis-garis yang bagus dan kerut-merut, sebuah pertanda datangnya musim gugur tua. Christian sendiri yang baru berusia tiga puluh enam, telah melihat di sana-sini adanya uban pada rambutnya yang hitam. Keletihan telah tertulis pada wajah Kaylila yang cantik, sebentuk keletihan dari jalan panjang yang berkesinambungan dan tidak mempunyai tujuan yang menggembirakan. Keletihan dan usia tua yang baru mulai, tersembunyi, serta belum terungkap, barangkali kecemasan yang belum tersadarkan; kecemasan senja kehidupan, kecemasan usia tua, kecemasan akan kematian. Setelah menarik napas panjang, dirinya meninggalkan Kaylila. Hatinya dipenuhi kesengsaraan dan kecemasan yang terselubung.
Malam-malam sesudahnya, Christian kembali melewatkan harinya dengan para penari dan anggur. Sesudahnya dengan akan mengambil satu, dua atau beberapa penari untuk bersenggama dengan mereka.
Dia lalu berpura-pura lebih tinggi dari teman-temannya, yang sebenarnya tidak lagi demikian. Dia telah meminum banyak anggur, dan bersenggama. Kemudian larut malam dia akan tertidur, letih dan selalu gelisah, hampir menangis dan putus asa. Dia mulai sulit tidur, dan gagal mencoba tidur. Hatinya mulai dipenuhi kesengsaraan. Dia mulai merasa tidak dapat lagi menanggungnya. Kemuakan menggagahi dirinya seperti anggur yang tidak enak, atau seperti musik yang terlalu dangkal dan manis, atau seperti senyum para penari yang palsu, atau wanginya rambut, manisnya payudara dan nikmatnya lubang surga mereka. Tetapi, di atas semuanya, sesungguhnya dia dimuakkan oleh dirinya sendiri, oleh wewangian dari rambutnya, oleh bau anggur dari mulutnya, oleh penampilan kulitnya yang lembek. Seperti orang yang makan dan minum terlalu banyak, lalu dia akan muntah dengan rasa yang sakit sekali, kemudian dia akan merasa lebih baik; seperti itulah keinginan manusia yang tidak henti-hentinya yang mampu menghancurkannya dengan kekuatan yang luar biasa.
Pada pergantian hari, saat dirinya berjalan ke luar kota, berkunjung ke daerah-daerah, saat itulah dia bisa tertidur – suatu kemungkinan tertidur – dan mempunyai setengah kesadaran. Pada saat itulah dirinya kembali bermimpi.
Kaylila mempunyai seekor burung kenari kecil yang langka dalam kurungan emas. Burung itulah yang menjadi mimpinya. Burung ini yang biasanya berkicau di pagi hari, menjadi bisu. Hal ini mengejutkan dirinya, dia meraih kurungan dan melihat ke dalamnya. Burung mungil itu telah mati dan terbaring kaku di lantai kurungan. Dia mengeluarkannya, menggenggamnya sebentar, lalu melemparkannya ke jalan raya. Dan, pada saat yang bersaamaan dia merasa ketakutan dan sakit hatinya, seolah-olah dirinya telah terlempar bersama-sama burung mati itu bersamaan dengan segala kebaikan dan nilai dalam dirinya.
Terjaga dari mimpi itu, Christian diliputi rasa sedih yang begitu dalam. Kesadaran mengantarkan pikiran-pikirannya untuk merasakan; bahwa dirinya telah menggunakan hidupnya dalam sikap tidak berharga dan tidak berperasaan. Dia tidak sedikitpun mencapai sesuatu yang penting. Tidak ada yang berharga atau bernilai yang telah dicapainya. Dia termenung sendirian.
Dengan sedih, Christian pergi ke kebunnya yang indah dan menyenangkan. Di dekat gerbang dia duduk di bawah pohon ketapang. Hatinya merasa ketakutan akan kematian. Dia duduk dan merasakan dirinya hampir mati, remuk, dan seolah kiamat akan tiba.
Perlahan-lahan dia kumpulkan pikiran-pikirannya, dan secara batin dia mulai menelusuriseluruh kehidupannya, sejak dari hari-hari awal yang dapat diingatnya. Bilakah dia telah benar-benar merasa bahagia? Kapankah dia benar-benar mengalami kegembiraan? Lalu, perlahan dalam hatinya dia mulai merasakan: “Sebuah jalan terbentang di hadapan yang harus kembali dicarinya untuk kemudia diikutinya. Jalan dengan bimbingan Tuhan.”
Hari-hari saat dirinya menjadi pemuda yang terus-menerus memiliki perasaan dan pikiran yang memuncak, mendorongnya untuk mencari ilmu dari para orang bijaksana. Saat dimana dirinya telah belajar banyak dari sang pendeta, masuknya segala pengetahuan segar yang terus menimbulkan kehausan baru, dan lalu di tengah kehausan ini mendorongnya untuk terus maju dan maju, inilah jalanmu. Dia mendengar suara dari dalam diri berkali-kali. Mendengarnya saat dirinya memutuskan mengikuti para musafir, hari dimana dia meninggalkan rumah. Lalu, saat dirinya meninggalkan para musafir untuk mendatangi Kyai Bahdarudin Syamawi, dan juga hari dimana dia telah meninggalkan pria itu untuk sesuatu yang tidak diketahuinya. Berapa lama sejak hari itu hingga saat dia melonjak ke sesuatu yang tinggi?
Lalu kini, betapa hambar dan tandusnya jalan yang telah ditempuh. Betapa lamanya dia telah melewatkan tahun-tahun tanpa tujuan yang agung, tanpa kehausan apapun, tanpa kemuliaan. Hanya terisi kesenangan-kesenangan kecil dan tidak pernah menjadi benar-benar puas. Tanpa menyadari hal tersebut, dia telah berupaya keras untuk menjadi seperti orang lain, dan kemudian hidupnya mulai menjadi lebih banyak sial dan lebih miskin dibandingkan mereka, karena sesungguhnya tujuan mereka bukanlah tujuan dirinya, dan kesedihan mereka bukanlah kesedihan dirinya. Dunianya saat ini, yang seluruhnya menjadi dunianya orang-orang Yohanes, semula hanyalah permainan baginya, sebuah tarian, sebuah komedi yang ditonton semua orang.
Semula hanyalah Kaylila yang berharga baginya, begitu bernilai baginya – tetapi masihkah demikian? Masihkah dirinya memerlukan Kaylila, dan masihkah Kaylila membutuhkan dirinya? Bukankah mereka hanya menjalankan permainan tanpa akhir? Perlukah hidup yang seperti ini? Tidak. Permainan ini adalah bentuk kesengsaraan, sebuah permainan yang barangkali terasa menyenangkan bila dimainkan sekali, dua kali, sepuluh kali – tetapi, bergunakah memainkannya secara terus-menerus?
Kemudian Christian menyadari bahwa permainan itu telah berakhir, bahwa dia tidak dapat memainkannya lagi. Ketakutan menyelinap dalam dirinya. Dia lalu merasakan seolah-olah sesuatu telah mati.
Sepanjang hari dia duduk di bawah pohon ketapang, memikirkan ayahnya, Angelina, memikirkan Kyai Bahdarudin Syamawi. Benarkah dia telah meninggalkan semua itu demi menjadi seorang Yohanes? Dia duduk di sana hingga malam menaungi langit. Ketika menengadah dan melihat gemerlap bintang, Christian berpikir, aku duduk di sini,di bawah pohon ketapang, di kebunku yang indah dan menyenangkan. Dia lalu tersenyum sedikit. Perlukah ini, benarkah ini, bukankah hal ini bodoh; aku harus memiliki sebatang pohon ketapang dan sebuah kebun agar aku dapat menikmati bintang?
Dengan pikiran di benaknya itu, dia telah mengakhiri semuanya. Dirinya yang menjadi seperti Yohanes pun telah mati. Dia lalu berdiri, mengucapkan selamat tinggal pada pohon ketapang dan kebunnya yang menyenangkan. Karena dia belum menyentuh makanan sedikit pun, dia kemudian merasa sangat lapar, dan memikirkan rumahnya yang ada di kota, kamarnya dan juga tempat tidurnya, mejanya yang besar berhiaskan hidangan yang lezat. Dengan sangat letih dia tersenyum, menggelengkan kepalanya, dan mengucapkan selamat tinggal pada semua barang itu.
Pada malam yang sama, Christian telah meninggalkan kebun dan kotanya, dan dia tidak pernah kembali. Lama sekali Yohanes berusaha mencarinya, karena dia berpikir bahwa Christian telah jatuh ke tangan penjahat. Sementara itu, Kaylila tidak sedikit pun berusaha mencarinya. Dia tidak heran dan terkejut saat mengetahui Christian telah hilang. Dia telah mengetahui hal ini sejak lama. Bukankan dirinya adalah seorang musafir, tanpa rumah, seorang pengembara? Kaylila merasa sakit yang melebihi saat pertemuan terakhir mereka. Namun, dalam kesakitannya karena kehilangan Christian, dia merasa bahagia karena telah memeluknya erat-erat hingga begitu dekat dengan jantungnya. Dirinya merasa telah begitu dimiliki dan benar-benar dikuasai oleh Christian.
Saat pertama kali dirinya mendengar kabar tentang hilangnya Christian, Kaylila pergi ke jendela tempat dia mengurung burung kenarinya yang langka dalam sangkar emas. Dia membuka pintu sarang, mengeluarkan burung itu, mengelusnya sejenak, lalu membiarkannya terbang. Telah begitu lama Kaylila memelihara burung yang kini terbang itu. Sejak saat itu pula, dia tidak lagi menerima tamu-tamu dan menutup rapat rumahnya. Beberapa waktu kemudian, Kaylila mengetahui impiannya menjadi kenyataan, dari hubungan terakhirnya dengan Christian, dia kini mengandung seorang bayi.

Bergabung Bersama

Christian tiba di kediaman Yohanes, pedagang kaya raya. Dirinya dipersilahkan masuk dalam rumah mewahnya. Pelayang mempersilahkan dirinya menunggu dalam salah satu ruang. Setiap jalan dalam rumah dilapisi dengan karpet mahal.
Tidak lama Yohanes masuk. Ia penuh keramahan dan gairah. Rambutnya dipenuhi dengan uban. Tatapan matanya bijaksana dan cerdik, meskipun mulutnya penuh hawa nafsu.
“Aku telah menerima pesan,” Pedagang itu memulai percakapan, “bahwa engkau adalah seorang yang terpelajar, lalu berpikir untuk mencari pekerjaan pada seorang pedagang. Lalu, betulkah engkau benar-benar membutuhkan pekerjaan itu?”
“Tidak.” Jawab Christian. “Saya tidak memerlukan dan saya tidak akan pernah memerlukan pekerjaan itu. Saya menjadi seorang pengembara, yang dengan dasar itu saya telah hidup untuk waktu yang lama.”
“Jika engkau memang seorang pengembara, bagaimana mungkin engkau tidak memerlukannya? Bukankah kebanyakan pengembara tidak memiliki apa pun?”
“Saya tidak memiliki apa-apa.” Jawab Christian. “Jika itu yang anda maksudkan. Saya memeang benar-benar tidak memiliki apa-apa. tetapi, itu semua disebabkan keinginan dan kehendak bebas saya sendiri, karena semua itu memang tidak saya perlukan.”
“Tetapi bagaimana engkau hidup jika tidak dirimu tidak memiliki apa-apa?”
“Saya tidak pernah memikirkan hal itu, Pak. Selama hampir tiga tahun saya hidup seperti ini, dan selama itu saya tidak pernah berpikir dengan apa saya harus hidup.”
“Jadi,” Pedagang itu tersenyum cerdik, “engkau selama ini hidup dari milik orang lain?”
“Tampaknya demikian. Bukankah pedagang juga hidup dari milik orang lain?”
“Begitukah menurutmu? Tetapi pedagang tidak mengambil sesuatu dari orang lain, melainkan dia memberikan sebentuk barang-barang sebagai gantinya.”
“Setiap hal mempunyai cara berbeda tentunya. Tetapi yang pasti adalah, setiap orang mengambil, dan setiap orang memberi. Itulah hidup.”
“Lalu, jika engkau tidak memiliki apapun, bagaimana engkau mampu memberi?”
“Setiap orang akan memberikan apa yang dirinya punyai. Seorang tentara akan memberikan kekuatan dan keberaniannya, seorang pedagang akan memberikan barang-barang, guru memberikan ilmu, petani memberikan beras, nelayan memberikan ikan.”
“Baiklah, lalu apa yang dapat engkau berikan? Apakah yang telah engkau pelajari hingga engkau dapat memberi?”
“Saya mampu berpikir, menunggu, berpuasa, bersabar dan berdoa.”
“Itu saja?”
“Kukira hanya itu.”
“Lalu, apa gunanya semua itu? Misalnya berpuasa, apa baiknya?”
“begitu besar nilainya, Pak. Jika seseorang tidak memiliki apa pun untuk dimakan, berpuasa akan menjadi hal paling cerdas yang dapat dilakukannya. Misalnya, jika diriku tidak pernah belajar berpuasa, dia harus mencari pekerjaan apa saja sekarang ini, baik dengan anda, atau dengan yang lainnya, karena lapar telah mendorongnya. Tetapi, seperti apa adanya, saya dapat menunggu dengan tenang. Dia mampu bersabar. Bisa untuk tidak membutuhkannya. Mampu melawan kelaparan untuk beberapa waktu lamanya, lalu menertawakannya. Oleh sebab itu, berpuasa sangat berguna, Pak.”
“Baiklah, anda benar pengembara. Tunggulah sebentar.” Yohanes beranjak, lalu kembali dengan sebuah map yang disampaikan pada tamunya, lalu bertanya. “Dapatkah engkau membaca ini?”
Christian membuka map yang di dalamnya berisi perjanjian penjualan secara tertulis, lalu dia mulai mebaca isinya.
“Bagus,” Kata Yohanes. “Lalu, maukah engkau menuliskan sesuatu pada lembaran ini untuk saya?”
Dia memberikan sebuah lembaran kertas serta sebuah pena, lalu Christian menuliskan sesuatu kemudian mengembalikannya.
Yohanes lalu mebacanya, “Menulis adalah baik, berpikir lebih baik. Kepandaian adalah baik, namun kesabaran itu lebih baik.”
“Engkau menulis dengan sangat baik sekali.” Puji Pedagang kaya itu. “Kita masih akan mendiskusikan banyak hal lainnya, tetapi hari ini engkau menjadi tamu saya dan akan tinggal di rumah saya.”
Christian lalu mengucapkan terima kasih dan menerimanya. Kini ia telah tinggal di rumah pedagang itu. Pakaian dan sepatu dibawakan kepada dirinya dan seorang pelayan disediakan untuk segala keperluannya setiap hari. Makanan enak dihidangkan padanya dua kali sehari, tetapi Christian hanya makan sekali sehari saat malam bersama pedagang kaya itu. Dia hanya makan secukupnya dan tidak meminum anggur. Yohanes banyak membicarakan usahanya pada Christian, memperlihatkan barang-barang dagangan, gudang-gudang serta kekayaannya. Christian belajar banyak hal-hal baru. Dia lebih banyak mendengar dan sedikit sekali berbicara. Dan, hal terpenting adalah ucapan Kaylila, dia tidak pernah sekalipun merendahkan dirinya kepada pedagang itu, tetapi membuat dirinya diperlakukan sederajat bahkan lebih. Yohanes memimpin usahanya dengan cukup hati-hati dan juga penuh semangat. Tetapi Christian, memperlakukan semua itu hanya layaknya sebuah permainan, membentuk aturan-aturan yang diusahakan untuk dipelajarinya secepat mungkin, tanpa berusaha untuk mengacaukan hatinya.
Christian membentuk waktunya sendiri setelah dia berhasil mengambil bagian dalam usaha tuannya itu. Setiap hari, saat Kaylila mengundangnya, dia akan segera mengunjungi Kaylila yang cantik. Pakaian indah telah mebalut tubuhnya serta sepatu yang bagus. Ia pun telah membawakan hadiah untuk wanita itu. Dia telah belajar begitu banyak hal dari bibir merahnya yang bijaksana, tangannya yang halus dan lembut. Christian yang masih seperti anak-anak dalam soal cinta bermaksud untuk terjun ke dalamnya, meskipun dengan keadaan buta namun dirinya tidak juga terpuaskan. Dirinya belajar dari wanita itu, bahwa orang tidak dapat memiliki kenikmatan tanpa meberikannya. Dan bahwa setiap bentuk gerakan, setiap ciuman, setiap sentuhan, setiap pandangan, dan setiap bagian tunggal tubuh mempunyai rahasianya sendiri, yang dapat memberikan kenikmatan kepada orang yang dapat mengerti. Kaylila mengajarkan kepada Christian bahwa orang-orang yang sedang bercinta tidak boleh berpisah satu dengan lainnya saat mereka selesai bersenggama tanpa saling mengagumi, tanpa ada perasaan telah dikalahkan dan mengalahkan, sehingga tidak akan ada perasaan jenuh ataupun sedih yang timbul, atau perasaan tidak enak karena telah menyalahgunakan atau disalahgunakan.
Christian memanfaatkan setiap jam-jam indah bersama wanita penghibur yang cantik, cerdik, dan dirinya terus menjadi muridnya, serta temannya. Sesungguhnya bersama Kaylila terbentang nilai dan arti kehidupannya sekarang, bukan dalam bisnis bersama Yohanes.
Pedagang itu memintanya untuk menuliskan surat-surat penting dan pesanan. Mereka mulai terbiasa berbincang-bincang tentang semua masalah penting. Lalu, Yohanes melihat bahwa Christian sedikit mengerti mengenai beras dan minyak, pengiriman dan penjualan. Tetapi dia lalu menyadari, bahwa Christian juga memiliki kepandaian khusus yang membahagiakan dan itu melebihi dirinya; yakni dalam ketenangan hati dan dalam seni mendengarkan dan meyakinkan orang asing.
“Pedagang itu,” Katanya kepada seorang teman, “bukanlah pedagang sesungguhnya, dan tidak akan pernah menjadi pedagang. Dia tidak pernah terpikat dengan bisnis, tetapi dia memiliki rahasia orang-orang itu, dan untuk dirinya sukses datang dengan sendirinya. Entah itu disebabkan dirinya lahir di bawah bintang keberuntungan, ataukah dia memakai sihir, atau dia belajar banyak saat dirinya menjadi pengembara. Kelihatannya dia akan selalu bermain dalam bisnis, karena bisnis itu sendiri tidak pernah bisa menarik hatinya. Tidak pernah sekalipun menguasainya. Sedikitpun dia tidak mencemaskan kegagalan. Dia tidak pernah sekalipun mengkhawatirkan kerugian.”
Lalu, teman itu menyarankan pada si pedagang kaya itu, “Berikan padanya sepertiga dari keuntungan usaha yang dipimpinnya, tetapi kelak biarkan dia menanggung kerugian yang sama besar dengan dirimu saat terjadi kerugian. Ini tentu akan mebuatnya lebih bersemangat.”
Yohanes lalu mengikuti saran temannya, tetapi Christian tetap kurang berminat pada hal tersebut. Jika dirinya memperoleh keuntungan, dia akan menerimanya dengan diam dan tenang. Dan, jika dirinya menderita kerugian, dia akan tertawa lalu berkata, “Baiklah, transaksi ini ternyata telah meburuk.”
Seluruh kenyataan yang ada, menunjukkan sepenuhnya bahwa Christian tetap tidak menyenangi bisnis. Pernah sekali waktu dirinya melakukan perjalanan ke salah satu desa untuk membuat perjanjian pembelian beras saat panen raya. Akan tetapi, saat dirinya tiba di sana, seluruh padi telah terjual pada pedagang lainnya. Namun, Christian tetap tinggal di desa itu beberapa hari lamanya. Ia menghibur petani, memberikan uang pada anak-anak, menghadiri perkawinan dan pulang dari perjalanan itu dengan segenap kepuasan dalam hatinya. Yohanes lalu menyalahkannya karena tidak segera kembali, karena dirinya telah mebuang begitu banyak waktu dan uang. Christian dengan tenang menjawab, “Jangan cerewet, sahabatku. Tidak ada yang akan engkau hasilkan dengan omelan. Jika kepergianku ini menimbulkan kerugian bagimu, aku akan menanggung kerugian itu. Aku sangat puas dengan perjalanan ini. aku menemui dan berkenalan dengan banyak orang. Aku telah bersahabat dengan penduduk. Anak-anak duduk di pangkuanku. Para petani memperlihatkan sawah mereka kepadaku. Bahkan tidak ada seorangpun di sana yang menganggap aku seorang pedagang.”
“Baiklah, semua itu tidak salah.” Yohanes mengakui dengan malu-malu, “Tapi, kenyataannya engkau tetaplah seorang pedagang, atau mungkin engkau hanya melakukan perjalanan hanya untuk kesenanganmu saja?”
“Tentu saja aku melakukan perjalanan itu untuk kesenanganku.” Christian tertawa. “Mengapa tidak? Aku telah mengenal daerah baru dan orang-orang. Aku menikmati persahabatan dan sebentuk kepercayaan. Kini, andaikan aku menjadi dirimu, aku akan segera pergi karena merasa sangat terganggu, disebabkan aku telah gagal melakukan pembelian, dan pada kenyataannya pun banyak waktu dan uang telah terbuang. Tetapi, aku telah memanfaatkan banyak hari dan waktuku dengan baik, belajar banyak hal, merasakan begitu banyak kenikmatan, dan aku tidak sedang menyakiti diriku sendiri dan juga orang lain melalui sebentuk kejengkelan dan kegugupan. Seandainya kelak aku dapat pergi ke sana lagi, barangkali membeli hasil panenan kemudian, atau untuk maksud-maksud lainnya, orang-orang yang bersahabat itu akan lebih menerimaku dengan terbuka, dan aku akan merasa lebih senang bahwa aku tidak melakukan ketergesaan dan bertindak kurang menyenangkan sebelumnya. Namun, biarlah semua itu terhenti dulu. Sahabatku, janganlah engakau menyakiti dirimu dengan omelan. Jika harinya nanti tiba, yakni saat engkau berpikir aku telah menyakiti hatimu, maka katakanlah itu sekali saja, dan aku akan segera melanjutkan perjalananku. Akan tetapi, sampai saat itu akhirnya tiba, biarlah kita tetap menjadi sahabat saja.”
Maksud pedagang itu agar Christian memakan umpan darinya ternyata juga gagal. Christian memakan miliknya sendiri. Christian tidak sedikitpun tertarik pada kesulitan Yohanes, sedangkan Yohanes memiliki banyak sekali kesulitan. Saat sebuah transaksi diancam tidak berhasil, jika pengiriman-pengiriman barang terancam hilang, jika seseorang yang berhutang tidak mampu membayar hutangnya. Yohanes tidak pernah sekalipun berhasil membujuk temannya; bahwa semua itu untuk memenuhi kebutuhan agar kelak tidak menemui kesulitan yang menyebabkan kemarahan, atau hanya sekedar membentuk kerutan di dahi dan sulit tidur. Pernah sekali waktu Yohanes memperingatkan bahwa Christian telah diajarkan banyak oleh dirinya, dengan ringan Christian menjawab, “Janganlah membuat lelucon seperti itu, sahabatku. Saya hanya belajar berapa harga sekarung beras, dan berapa besar laba yang diterima dari orang yang berhutang. Itulah pengetahuan anda. Tetapi aku tidak belajar cara berpikir dari anda, Yohanes. Sesungguhnya akan lebih baik bagimu, jika engkau belajar hal itu dari diriku.”
Itulah Christian, hatinya memang tidak pernah ada dalam bisnis. Bisnis hanya berguna baginya sebagai alat untuk mendapatkan uang bagi Kaylila, dan sebenarnya uang yang diperolehnya melebihi akan kebutuhannya sendiri. Selain itu, ketertarikan dan keingintahuan Christian hanya pada sosok seseorang, sedangkan pekerjaan mereka, kesulitan mereka, kesenangan mereka, dan kebodohan mereka, asing baginya dan terlalu jauh untuk dipikirkannya, seolah jarak bulan dari bumi.
Meskipun pada kenyataannya dia begitu gampang berbicara kepada setiap orang, hidup berbaur dengan orang lain, belajar dari setiap orang, dia sangat menyadari bahwa ada sesuatu yang memisahkan dirinya dari mereka – dan hal ini berhubungan dengan kenyataan bahwa dia telah menjadi seorang musafir, seorang pengembara untuk waktu yang lama. Dia melihat orang-orang hidup dengan cara kekanak-kanakan atau seperti binatang, yang keduanya begitu dicintai dan diremehkan. Dia melihat orang-orang bekerja keras. dia melihat mereka menderita lalu menjadi tua, yang menurut dirinya itu sangat tidak berharga – untuk kesenangan, walau hanya sedikit, dan sebentuk kehormatan yang sepele. Dirinya melihat orang-orang saling mencemoohkan dan meremehkan, mereka saling menyakiti. Dia juga melihat mereka berkeluh kesah, atau merasa sakit, dan menderita saat mengalami kerugian yang oleh para musafir hal tersebut tidak pernah terpikirkan dan dirasakan.
Christian menerima semua orang yang datang kepadanya. Dia menyambut setiap pedagang yang membawakan dagangan untuk dijual kepadanya. Dia menyambut baik setiap orang yang datang berhutang kepadanya. Dia menyambut baik seorang pengemis yang duduk di tempatnya selama satu jam, lalu menceritakan tentang kemiskinannya, meskipun dia merasa orang itu tidak lebih miskin dari dirinya saat dahulu. Dia tidak memperlakukan orang kaya berbeda dengan seorang pelayan yang membersihkan lantai, bahkan seorang pejalan kaki yang mencuri recehan darinya.
Saat Yohanes datang padanya dan menceritakan tentang kesulitan-kesulitannya, atau hanya sekedar meremahkannya tentang sebuah transaksi, Christian akan mendengarkannya dengan sungguh-sungguh, penuh perhatian dan menjadi orang yang mengagumkan. Dia berusaha memahami dan mengerti. Lalu, dia akan memberikan sedikit apa yang dibutuhkannya, untuk kemudian dia akan kembali berpaling ke orang lain yang menghendakinya. Dan itulah Christian, banyak yang ingin berdagang dengannya, banyak yang berusaha memperoleh simpatinya, banyak yang mendengarkan saran-sarannya. Dia memberikan saran, dia bersimpati, memberikan hadiah, dia membiarkan dirinya ditipu sedikit, dan dia pun memenuhi pikiran-pikirannya dengan semua permainan itu, lalu dia akan merasa sedikit bergairah.
Ada kalanya dia akan mendengar suara halus dari dalam dirinya. Suara yang terasa begitu lembut, yang mengingatkannya dengan tenang, mengeluh dengan tenang, sehingga dia hampir tidak mendengarnya. Kemudian di lain waktu, dia melihat segalanya dengan lebih jelas bahwa sebenarnya dia sedang menjalani kehidupan yang aneh, bahwa dirinya sebenarnya sedang melakukan banyak hal yang hanya merupakan sebuah permainan, bahwa dia akan merasa sangat senang dan terkadang merasakan kenikmatan, dan sesungguhnya kehidupan nyata itu hanya lewat di depannya, bahkan tidak sedikitpun menyentuhnya, – seperti seorang pemain bola, dia sedang bermain dengan bisnisnya, dengan orang-orang di sekitarnya, melihat mereka, mengejar mereka, sedikit memperoleh hiburan dari mereka; – tapi dengan hatinya, dengan sikap dasarnya yang nyata, dia tidak sedang berada di sana. Dirinya yang sebenarnya berkelana ke mana saja, jauh, berkelana terus-menerus dengan tidak terlihat dan bahkan terkadang tidak terkait dengan urusan kehidupannya. Kadang-kadang Christian merasa takut dengan pikiran-pikiran ini dan ingin juga ia dapat membagi urusan-uran sehari-hari yang kekanak-kanakan dengan kehebatannya, dengan segala kesungguhan untuk bisa mengambil bagian di dalam urusan-urusan ini, untuk bisa menikmati hidup dan hidup seperti orang-orang ketimbang hanya di sana sebagai penonton.
Hari-hari kemudian, dia datang ke tempat Kaylila yang cantik, saat dirinya telah mempunyai uang yang cukup baginya untuk dia mulai mempelajari seni bercinta, yang lebih dari segalanya, bagaimana memberi dan menerima menjadi satu. Dia kemudian berbincang-bincang dengan Kaylila, belajar dari dirinya, memberikan saran kepadanya dan juga menerima saran. Kaylila dapat mengerti dirinya secara lebih baik bila dibandingkan Angelina di saat-saat dahulu. Dia jauh lebih nyaman bersama Kalila.
Pernah satu kala dia berkata kepada Kaylila, “Engkau berbeda dengan orang lain. Engkau menyukai diriku. Engkau menjadi Kaylila dan bukan orang lain. Jauh di dalam dirimu terdapat ketenangan dan sebuah tempat perlindungan, dan setiap saat engkau mampu untuk kembali menjadi dirimu sendiri seperti yang terlihat olehku. Namun, untuk itu hanya sedikit sekali orang yang mempunyai kemampuan seperti itu, tidak setiap orang mampu memilikinya.”
“Tidak semua orang pandai.” Jawab Kaylila
“Tidak sedikit pun berkaitan dengan itu Kaylila sayang.” Kata Christian. “Yohanes sepandai diriku, tetapi tidak sedikitpun dalam dirinya memiliki tempat berlindung. Kebanyakan orang hanya memiliki pemahaman seorang anak kecil. Kebanyakan orang, Kaylila, layaknya daun yang melayang gugur, jatuh terguncang angin dan meliuk-liuk di udara, berkibar-kibar sebelum akhirnya terhempas ke tanah. Tetapi, sedikit sekali yang bisa seperti bintang-bintang yang mengitari satu garis edar. Tidak ada angin yang menyentuh bintang-bintang itu. Dalam diri mereka, mereka memiliki petunjuk dan jalan mereka sendiri. Di antara semua orang bijaksana yang banyak ku ketahui, ada satu orang yang sempurna dalam hal ini. hingga hari ini pun aku tidak dapat melupakannya. Orang memanggilnya Kyai Bahdarudin Syamawi, yang menyampaikan dengan agung ajaran-ajarannya. Ribuan orang mendengarkan ajaran-ajaran itu setiap harinya, dan beriringan beribadah secara jemaah setiap beberapa jam bersamanya. Tetapi, orang-orang yang mengikutinya adalah daun jatuh, mereka tidak memiliki kebijaksanaan dan petunjuk dalam diri mereka. Mereka mencintai pria itu melebihi cinta pada Tuhan. Mereka yang akan berpaling bila pria itu menjadi daun jatuh atau bila jasadnya punah.”
Kaylila memandang dirinya dan tersenyum hangat. “Engkau membicarakan dirinya lagi.” Ujarnya. “Saat membicarakannya engkau kembali terlihat seperti seorang pengembara.”
Christian terdiam. Mereka bertatapan lama, kemudian bersenggama lagi, tiga dari puluhan gaya permainan berbeda yang diketahui Kaylila. Tubuh wanita itu lentur. Siapa pun yang mempelajari seni bercinta darinya, akan mempelajari begitu banyak kenikmatan, banyak rahasia. Kaylila bisa lama sekali saat bersenggama dengan Christian, mengalahkannya, menguasainya, mengalahkannya, lalu bergembira pada saat bersamaan mencapai kepuasan, hingga Christian selesai dan terbaring letih di sisi Kaylila.
Wanita penghibur itu membungkuk di atasnya dan memandangi wajah Christian lama sekali, jauh ke dalam matanya yang mulai terlihat letih.
Engkaulah kekasih terbaik yang pernah aku miliki. Kata Kaylila dalam benaknya. “Kau lebih kuat dibandingkan yang lain, lebih supel dan bernafsu. Engkau telah mempelajari seniku dengan baik, Christian. Suatu hari nanti, saat diriku akan menjadi tua, aku ingin memperoleh anak darimu. Dan, sampai sekarang, kekasihku, engkau masihlah tetap seorang pengembara. Engkau tidak benar-benar mencintaiku. Bahkan engkau tidak mencintai siapa pun. Tidak benarkah itu?”
“Mungkin saja.” Jawab Christian dengan letih. “Aku seperti layaknya dirimu. Engkau yang tidak pernah mencintai siapa pun, bagaimana mungkin engkau mampu mempraktekkan cinta sebagai sebuah seni? Barangkali sebenarnya orang-orang seperti kita tidak dapat bercinta, kita hanya mengumbar nafsu. Orang-orang biasalah yang dapat, dan itulah rahasia mereka.”
Christian menatap jauh ke dalam relung pandang Kaylila. Mereka saling menyentuh kedalaman jiwa mereka melalui tatapan. Saat rasa dingin, kehangatan dan rasa antara keduanya menyatu dalam jiwa mereka, mereka mengakhirinya dengan ciuman yang bagi Christian mulai berkurang kemanisannya. Hari itu, mereka bersenggama beberapa kali lagi.

Chapter 2 : Dalam Kebun Kaylila

Christian terus belajar hal yang baru di setiap langkahnya, saat dia menemui dunia yang berubah, dia terpesona. Dia melihat saat mentari terbit melalui gunung-gunung, lalu di lain waktu dia melihatnya terbenam di sudut laut melalui kejauhan di atas pantai kelapa. Di malam harinya ia melihat bintang-bintang di langit serta bulan sabit yang mengambang bagai perahu di atas laut biru. Di melihat banyak bentuk pepohonan, binatang-binatang, pelangi, bebatuan, bunga, ganggang dan sungai. Biru pucatnya gunung tinggi di kejauhan, kemilaunya embun pagi tertimpa cahaya. Mendengar kicauan burung, lebah berdengung, serta suara angin yang lembut bertiup di atas sawah. Semua hal yang dialaminya begitu berwarna dan terwujud dalam seribu bentuk yang berbeda-beda, semuanya selalu ada di sana. Matahari dan bulan terus bersinar. Sungai-sungai akan selalu mengalir dan burung terus berkicau, serta lebah telah berdengung. Tetapi semua hal itu tidak berarti bagi Christian di waktu yang lampau. Semua hal hanyalah sebuah kabut yang dibuat-buat dan lewat begitu saja di depan matanya. Sesuatu yang dipandang dengan ketidakpercayaan, dikutuk untuk tidak perlu dihormati, serta diasingkan dari segala bentuk pikiran-pikiran; dikarenakan semua itu bukanlah kenyataan, karena segala bentuk kenyataan terdapat di sisi lain yang bisa terlihat. Akan tetapi, kini matanya tetap hidup di sisi ini. ia dapat melihat dan mengenal yang dilihantnya dan ia mencari tempatnya di dunia. Dia tidak berusaha mencari kenyataan. Tujuannya bukanlah pada sisi lain. Dunia akan menjadi indah bila dilihat dengan cara ini, tidak perlu pencarian, begitu sederhana dan semuanya menjadi sudut pandang kekanak-kanakan, apa adanya. Bulan dan bintang itu sangat indah. Sungai, hutan, gunung, pantai dan bebatuan, kambing dan lebah, bunga dan kupu-kupu, semuanya juga indah. Sungguh sangat indah dan menarik hati menjelajah dunia yang seperti ini. begitu sangat disadari, menjadi begitu diperhatikan; tanpa ketidakpercayaan. Di manapun, matahari akan selalu membakar dengan garangnya. Di manapun, di bayangan pepohonan akan selalu dingin. Ada hari dan malam. Setiap waktu akan berlalu dengan cepat. Dirinya melihat sekelompok kera di dalam hutan, bergelantungan di antara pepohonan pada cabang-cabangya, dan mendengarkan teriakan mereka yang buas serta begitu penuh akan keinginan. Christian memperhatikan seekor kambing jantan mengikuti domba dan pasangannya. Di beningnya danau ia melihat seekor ikan mengejar mangsanya dalam petang yang penuh kelaparan. Sekelompok ikan muda seolah kebingungan dan berkilauan, bergerak dengan ketakutannya terus berusaha menjauhi ikan-ikan besar. Kekuatan dan nafsu terpantul dalam putaran arus air yang berputar mengalun, terbentuk oleh pengejar yang marah.
Semua hal itu selalu ada, tetapi dia tidak pernah menyaksikannya. Dia tidak pernah hadir di situ. Namun, kini dia hadir dan menjadi milik semua itu. Melalui matanya ia telah melihat bentuk cahaya dan bayangan. Melalui pikirannya ia memperhatikan adanya bulan dan bintang.
Dalam perjalanannnya, Christian berusaha mengingat apa yang dialaminya di As-Salam, ajaran-ajaran yang telah dia dengar di sana, perpisahan dengan Angelina dan percakapan dengan pria suci. Ia mengingat setiap kata yang telah dikatakannya kepada pria suci, dan, dia sangat terpukau bahwa dia telah mengatakan hal-hal yang dia sendiri kemudian benar-benar tidak memahami. Apa yang telah diucapkannya – bahwa kebijaksanaan dan rahasianya tidak dapat diajarkan, bahwa ajaran itu tidak terkatakan dan tersampaikan – dan yang telah dialaminya dulu dalam satu jam penerangan adalah hanya apa yang dia miliki sekarang ini sebagai awal. Dia harus mengalaminya sendiri. Telah lama dia yakin bahwa dia dapat menjadi tunggal, dari sifat dasar yang sama dengan orang-orang suci. Hanya saja dia merasa tidak pernah menemukan diri yang sebenarnya, karena dia telah memerangkapkannya dalam jaring-jaring pikirannya sendiri. Badan bukanlah diri yang sebenarnya, bukan pula tempat untuk memainkan rasa, bukan pula pikiran, bukan pengertian, bukan pula menjadi sebuah kebijaksanaan yang begitu dibutuhkan, atau sebuah seni yang dapat disimpulkan; dan sesungguhnya dari pemikiran-pemikiran yang telah ada, dapat dikisarkan untuk pikiran-pikiran baru. Tidak, dunia pikiran sebenarnya masih berada pada satu sisi, dan itu tidak akan menuju pada satu titik tujuan bila seseorang menghancurkan perasaan-perasaan akan diri untuk memberinya pikiran dan pengetahuan. Baik keberadaan pikiran dan perasaan adalah hal-hal yang baik, di belakang keduanya tersembunyi makna yang mendalam. Sungguh menjadi sangat bernilai saat kita bermain menggunakan keduanya, untuk tidak memandang rendah atau menilai terlalu tinggi keduanya, tetapi cobalah untuk mendengarkan dengan penuh perhatian suara keduanya. Raga akan menjadi berusaha keras sesudah suara apapun di dalam memerintahkannya, dia tidak akan tinggal di mana pun melainkan di tempat di mana suara itu menyarankan sesuatu kepadanya.
Mengapa dulu Angelina duduk di atas pakaiannya saat mereka menerobos kesadaran duniawi? Dia mendengarkan sebuah suara, bahwa sesungguhnya dia mendengar suara dari dalam jantungnya sendiri yang memerintahkan untuk duduk di atas pakaiannya, dan dia tidak mengambil jalan lain hanya untuk mendera pikiran dan perasaannya; dia telah mendengar suara itu. Untuk menuruti perintah dari luar yang masuk ke dalam, bukan yang lain, hanya suara, untuk dipersiapkan – dan, itu baik, itu perlu. Tidaka ada hal lain yang lebih.
Saat malam-malam merayap di langit, saat Christian membaringkan dirinya di atas jerami kering, Christian telah bermimpi. Dia melihat Angelina menghampirinya, dia menggunakan sebentuk pakaian keindahan dan berbalut kerudung dan jubah. Angelina terlihat sedih dan bertanya pada dirinya, “Mengapa engkau meninggalkan diriku?” Setelah itu, Christian memeluk Angelina, menangkupkan kedua tangan kepadanya, meletakkan di dadanya, lalu menciumnya. Tetapi di hadapannya bukan lagi Angelina, melainkan seorang wanita lainnya. Dari gaun indah wanita itu keluar sepasang payudara padat dan sempurna, dan Christian berbaring di pelukan wanita itu lalu menghisap payudara itu. Manis dan lezatnya air susu yang keluar dari payudara itu. Serasa indahnya matahari menyinari hutan, lebah membuahi bunga, serasa beraneka rasa buah-buahan, serasa seetiap bentuk kelezatan. Air susu itu tiba-tiba terasa mencekat, air susu itu beracun. Christian terbangun. Ketika dirinya terbangun, kemilau pucatnya sungai di bawah temaram bulan membayang di matanya, dan di antara pepohonan terdengar lengkingan burung hantu, jelas dan nyaring.
Saat pagi merambat di sela-sela dedaunan, Christian meminta kepada pengayuh rakit, untuk menyebrangkannya. Pengayuh itu dengan senyuman membawanya menyebrangi sungai dengan rakit bambunya. Hamparan air itu berkilau merah jambu terkena cahaya pagi.
“Sungai yang indah.” Kata Christian.
“Ya,” jawab pengayuh itu. “Sungai yang sangat indah. Aku begitu mencintainya di atas segala-galanya. Aku sering mendengarkannya, menatapnya, dan dari dia aku selalu belajar sesuatu. Seseorang dapat belajar banyak dari sungai.”
“Terima kasih, Orang Baik,” Kata Christian saat tiba di sisi sungai yang lain. “Saya khawatir bahwa saya tidak dapat memberikan hadiah apapun kepada anda, atau bayaran untuk anda. Saya tidak berumah, seorang pengelana.”
“Saya bisa melihatnya.” Kata pengayuh rakit itu, “dan, saya tidak mengharapkan bayaran atau pemberian apapun dari anda. Anda akan memberikannya kepada saya di lain waktu.”
“Begitukah?” Tanya Christian dengan gembira.
“Tentu. Saya telah belajar begitu banyak dari sungai; bahwa segala sesuatu akan kembali. Begitu juga anda, pengelana, pasti akan kembali. Sekarang, selamat berpisah, mudah-mudahan persahabatan ini menjadi pembayaran bagi saya. Ingatlah saya bila anda kelak memanjatkan doa pada Tuhan.”
Tersenyum, lalu keduanya berpisah. Christian merasa begitu senang dengan persahabatan itu. Ia merasa melihat sosok Angelina, pikirnya dalam senyum. Semua hal yang ditemuinya menunjukkan sosok Angelina. Semua begitu berterima kasih, meskipun mereka sendiri pantas mendapatkan terima kasih. Semua seakan bersikap patuh. Seolah-olah semuanya ingin menjadi temanku, menurut dan berpikir sedikit saja. Orang-orang itu seperti anak-anak.
Saat tengah hari menyapa, Christian melewati sebuah desa. Anak-anak kecil menari di tengah jalan, di depan gubuk-gubuk mereka. Mereka bermain dengan pecahan buah kelapa dan batu-batu gundu kecil. Mereka berteriak dan saling bergelut, tetapi kemudian berlari dengan takut-takut saat pengelana asing itu muncul. Di ujung desa, jalan itu bertepian dengan kali, dan dari pinggir kali Christian melihat seorang wanita muda berlutut mencuci pakaian. Saat Christian menghampiri dan menyapanya, lalu menyalaminya, wanita itu mengangkat kepalanya dan menatap dirinya dengan senyuman, sehingga Christian bisa melihat putih mata wanita itu berkilauan. Christian menyampaikan salam, lalu menanyakan berapa jauh lagi jalan menuju kota. Setelahnya, wanita itu berdiri dan tegak di hadapan Christian. Bibirnya yang basah berkilau pada wajahnya yang muda itu, sungguh sangat menarik hati. Dia berbasa-basi pada Chrsitian, dan menanyakan apakah dirinya sudah makan, dan apakah seorang pengelana seperti dirinya tidur sendirian dalam malam-malamnya, tanpa kehangatan dari seorang wanita. Lalu, perempuan itu meletakkan kaki kirinya di atas kaki kananya dan membuat sebuah gerakan, seolah terlihat seperti wanita yang mengundang laki-laki untuk melakukan kenikmatan cinta yang disebut dengan istilah “mendaki bukit”. Christian merasakan darahnya bergelegak, dan ketika dia mengingat kembali impiannya saat itu, ia membungkukkan tubuhnya sedikit ke arah wanita itu, mendekatkan penciumannya pada puting payudaranya yang tertutup kain batik cokelat. Ketika menengadah, ia melihat wanita itu tersenyum penuh gairah, dan sorot matanya yang setengah tertutup memohon dengan penuh kerinduan dan nafsu.
Christian juga merasakan kerinduan dan gejolak birahi dalam dirinya. Oleh karena dirinya belum pernah menyentuh perempuan asing, dirinya merasa gugup sebentar, meskipun kedua tangannya telah siap untuk memeluk perempuan itu. Pada saat itulah dirinya mendengar suara dari dalam, dan suara itu berkata, “Jangan!” Kemudian semua keajaiban itu lenyap dari wajah tersenyum wanita muda itu. Dia tidak melihat sesuatu selain dari pandangan yang bergairah dari seorang wanita muda yang penuh nafsu. Dengan lembut Christian mengusap pipi perempuan itu dan dengan cepat menghindar dari wanita yang kecewa itu, dan menghilang di antara balik pepohonan.
Sebelum sore menjemput, langkah Christian telah menghantarkannya hingga kota dan diapun merasa gembira, karena dia mempunyai keinginan untuk bersama dengan orang banyak. Dia telah tinggal di alam, dan untuk waktu yang lama dia merasa sendirian, tidur di atas jerami di malam-malam sebelumnya, hingga ia merasa lupa akan rasanya bernaung di bawah sebuah atap.
Di pinggir kota, di tepi sebuah kebun yang tidak berpagar, pengembara itu bertemu dengan sekelompok pelayan wanita dan pria yang diantaranya membawa keranjang. Di tengah kebun, di bawah teduhnya pohon mangga, di atas kursi berukir yang berbantal, duduklah seorang wanita. Christian berdiri tegak tepat di pintu masuk, dan matanya menatap lekat pada wanita itu. Di balik rambutnya yang terurai dan berwarna hitam, Christian melihat seraut wajah cerdas, begitu cantik dan berkilau, bibir cerah dan berkilat basah, alis yang di cat dengan lengkungan tinggi, matanya yang kecoklatan terasa cerdik dan menyelidik, serta leher jenjangnya berdiri di atas gaun putih bersulam benang emas. Tangannya begitu kukuh dan lembut, panjang dan semampai, dengan beberapa gelang emas melingkari pergelangannya.
Christian melihat begitu cantiknya wanita itu, dan hatinya merasa begitu bahagia. Dia membungkuk rendah sekali saat tatapan wanita itu mengarah pada dirinya, lalu ia mengangkat kembali dirinya. Untuk beberapa saat memandang ke dalam mata cekungnya. Wanita itu perlahan mendekatinya, Chrsitian menghirup harum wewangian yang asing namun menggodanya. Untuk sesaat wanita cantik itu mengangguk dan tersenyum, kemudian dirinya berbalik, menghilang ke dalam rumah. Lalu Chrsitian berpikir kalau dirinya telah memasuki kota dengan bermandikan cahaya bintang keberuntungan. Ia merasakan dorongan yang kuat untuk memasuki kebun dengan segera, tetapi berulang kali ia tertahan dan berpikir, karena dia segera melihat betapa para pelayan itu begitu lekat menatap pada dirinya, tatapan mereka sungguh menghina, sangat menaruh ketidakpercayaan, dan dari gerakan mereka sungguh terlihat begitu menolak.
Aku hanyalah seorang pengembara lusuh, demikian pikirnya, masih seorang yang sendirian dan tidak mempunyai suatu apa pun. Aku tidak dapat terus seperti ini. Aku tidak bisa tetap seperti ini. Aku tidak dapat memasuki kebun seperti ini. Dan, dia tertawa.
Lalu dia kembali melangkah, dia bertanya segera pada orang pertama yang ditemuinya, milik siapakah kebun itu dan siapakah nama wanita itu. Lalu dirinya mengetahui kebun itu milik Kaylila, seorang pelacur terkenal. Dan, selain kebun itu, Kaylila mempunyai sebuah rumah lainnya di tengah kota.
Kemudian Christian melanjutkan langkahnya memasuki kota. Dalam hatinya ia memiliki satu tujuan. Untuk menggapai tujuannya itu, ia melihat kota, berjalan-jalan di sepanjang kota, berdiri tegak di penjuru dan tempat-tempat, dan beristirahat di anak tangga. Saat malam mendekati hari, ia berkenalan dengan seorang tukang cukur. Dia berjumpa dengannya di depan sebuah masjid, saat pria itu selesai beribadah. Pada malam harinya, ia tidur di antara tumpukan bangku, di bawah tenda warung pinggir jalan, dan pagi-pagi sekali saat tukang cukur itu selesai beribadah, Christian menghampirinya. Ia minta dicukurkan jenggotnya, dan dirapikan rambutnya, ia meminta agar rambutnya disisir rapi dan diberi minyak terbaik yang dimilikinya, setelah sebelumnya ia mandi di masjid.
Saat Kaylila yang cantik itu duduk di kebunnya pada sore hari, Christian berdiri tegak di pintu masuk. Dia membungkuk dan menerima balasan salam dari pelacur itu. Dia memberikan isyarat pada pelayan yang berada di dekat pintu masuk, dan meminta kepadanya untuk menyampaikan pada nyonyanya, bahwa seorang pria ingin berbicara kepadanya. Setelah beberapa saat, pelayan itu kembali pada Christian dan memintanya agar mengikuti pelayan itu. Christian dengan diam-diam diantarkan ke salah satu paviliun, di dalamnya terlihat Khumara sedang tiduran di atas sofa putih panjang, dengan setumpuk bantal menahan punggungnya yang bersandar, lalu pelayan itu meninggalkannya.
“Bukankah anda yang kemarin berdiri di depan kebunku?” Tanya Kaylila.
“Ya, begitu adanya. Aku melihatmu, dan engkau tersenyum padaku.”
“Tetapi, bukankah anda masih berjenggot dan berambut panjang kemarin, dengan debu di atasnya?”
“Engkau mengingatku dengan cukup baik. Anda melihat dan dengan baik segalanya. Aku adalah putra seorang kuli, lahir dari rahim seorang pelacur, dan telah menjadi seorang musafir, selama hampir tiga tahun. Namun, saat ini saya telah meninggalkan jalan itu dan langkah saya mengantarkan saya ke kota ini, dan orang pertama yang saya temui sebelum memasuki kota adalah anda. Dan, saya datang kemari untuk mengatakan pada anda, bahwa andalah wanita pertama yang mampu membuat diriku berbicara tanpa menurunkan pelupuk mataku. Aku tidak pernah sekalipun menunduk saat bertemu seorang wanita cantik.”
Kaylila tersenyum hangat, tangannya memainkan kipas dari bulu, lalu bertanya, “Semua itukah yang telah menyebabkan langkahmu mengantarkan kembali engkau kemari?”
“Aku telah datang untuk mengatakan hal tersebut kepada anda, dan setulus hatiku menghaturkan terima kasih karena anda begitu cantik. Dan, sekiranya hal ini memberatkan hati anda, sehingga tidak menyenangkan anda, Kaylila, aku hanya ingin engkau menjadi teman dan guruku, karena sedikitpun aku tidak mengetahui seni yang membuat anda memilih menjadi seorang pelacur.”
Kaylila menatap dalam kedua mata Christian, lalu dia tertawa terbahak-bahak.
“Tidak pernah sekalipun dalam hidupku seorang pengembara datang kepadaku dan ingin belajar dari aku. Belum pernah ada seorang pengembara dengan pakaian lusuh dan robek datang kepadaku. Banyak orang muda datang kepadaku, termasuk pria paruh baya, tetapi mereka datang berpakaian indah, bersepatu bagus. Ada harum wewangian dari tubuh dan rambut mereka, serta uang di kantung mereka. Itulah cara mereka datang kepadaku.”
Christian lalu berkata, “Aku telah siap untuk memulai belajar dari anda. Aku sesungguhnya telah belajar sesuatu kemarin. Aku telah menghilangkan jenggotku, dan menyisir rapi rambutku serta meminyakinya. Tidak ada lagi yang kurang, wahai wanita yang paling cantik; kuupayakan baju bagus, sepatu bagus dan uang di kantungku. Aku telah mengupayakan hal-hal yang lebih sulit daripada barang-barang sepele itu dan telah memperoleh barang-barang itu. Mengapa aku tidak boleh mencapai apa yang telah aku putuskan untuk melakukannya kemarin – untuk dapat menjadi teman anda dan mempelajari kenikmatan cinta dari anda? Kau akan menemukan aku sebagai murid yang cepat pandai, Kaylila. Sesungguhny aku telah mempelajari hal-hal yang lebih sulit daripada apa yang harus anda ajarkan padaku. Sehingga bagimu, apakah diriku kurang baik seperti adanya, dengan minyak di rambutku, meski tanpa pakaian, sepatu dan uang.”
Kaylila kembali tertawa dan berkata, “Tidak, ia belumlah cukup baik. Dia tetap harus memiliki pakaian, pakaian yang sangat bagus, juga sepatu, sepatu yang bagus, serta uang banyak di dalam kantungnya, juga hadiah yang dibawanya untuk Kaylila. Tahukah anda sekarang, pengembara? Mengertikah anda?”
“Aku sangat mengerti,” Ujar Christian setengah berteriak. “Bagaimana aku dapat gagal untuk bisa memahami jika ucapan itu keluar dari mulut seperti itu? Mulut anda merah dan berkilat. Bibirku juga merah dan segar, saya yakin bibir ini akan cocok sekali dengan bibir anda. Lihat sajalah nanti. Tetapi, katakanlah kepadaku, Kaylila yang cantik, tidak takutkah engkau kepada pengembara yang datang untuk mempelajari cinta dan engkau menolaknya?”
“Mengapa aku harus takut kepada seorang pengembara, seorang pengembara dari hutan, yang pernah melewati pepohonan, menaklukkan gunung, menapaki pantai. Tidur di atas jerami, datang dari sekumpulan serigala, namun tidak memahami tentang wanita?”
“Kami para pengembara sangat kuat dan tidak takut pada apapun. Dia dapat memaksa kemauannya pada anda, Kaylila. Sesungguhnya dia dapat mencuri anda, dia dapat menyakiti anda.”
“Tidak. Aku tidak takut. Pernahkah seorang pengembara takut pada seseorang yang setiap saatnya dapat datang dan memukulnya, serta merampok segala pengetahuannya, kesalehannya, kekuatannya untuk dapat berpikir dalam-dalam? Tidak! Karena mereka adalah milik mereka sendiri, dan ia hanya dapat memberikan apa yang diinginkan dan jika mereka ingin. Itulah sesungguhnya yang terjadi pada Kaylila serta kenikmatan cintanya. Cantik dan merekahnya bibir Kaylila, tetapi cobalah engkau mencium bibir-bibir itu melawan kehendak Kaylila, maka tidak ada satu kemanisanpun yang akan diperoleh dari bibir itu – meskipun sesungguhnya bibir itu tahu cara memberi kemanisan itu. Anda tentunya adalah seorang murid yang gampang menangkap pelajaran, Christian. Karena itu, pelajarilah juga hal penting ini. setiap orang dapat mengemis, membeli, dihadiahi dengan dan mendapatkan cinta di jalanan, tetapi sesungguhnya cinta itu tidak akan pernah dapat dicuri. Anda telah sepenuhnya salah mengerti. Sebuah hal yang sepantasnya sangat perlu dikasihani, jika pria muda dan gagah seperti anda telah gagal untuk bisa mengerti.”
Christian membungkuk dan tersenyum. “Anda benar, Kaylila. Sungguh kasihan. Sungguh teramat kasihan. Tidak! Tidak kuinginkan setetes kemanisan pun harus hilang dari bibir anda, juga tidak dari saya. Karena itu, aku akan datang lagi bila diri ini telah mempunyai apa yang masih kurang bagiku dalam pakaian, sepatu, dan uang. Tetapi katakan kepadaku, Kaylila yang cantik, tidak dapatkah anda memberiku sedikit saran?”
“Saran? Mengapa tidak? Siapakah yang tidak akan dengan senang hati memberikan saran kepada seorang pengembara yang miskin juga dungu, yang datang dari sekumpulan serigala?”
“Kaylila sayang, ke manakah saya harus pergi untuk bisa mendapatkan ketiga hal tersebut secepat mungkin?”
“Wahai pengembara, banyak sekali orang yang ingin mengetahui hal itu, anda harus melakukan apa yang telah anda pelajari untuk mendapatkan uang, pakaian, dan sepatu. Sebaliknya, seseorang yang miskin akan pengetahuan tidak akan mampu memperoleh uang.”
“Aku dapat berpikir. Aku mampu menunggu, berpuasa, serta aku juga dapat bersabar dan berdoa.”
“Hanya itu? Tidak ada lagi?”
“Tidak. Oh ya, aku dapat mengarang sebuah puisi. Apakah engkau mau menciumku untuk sebuah puisi?”
“Baiklah, akan kulakukan jika puisi itu bisa menyenangkan hatiku. Apakah namanya?”
Sesudah berpikir sejenak, lalu Christian bersyair

“Dalam kebun yang bertabur bunga
Ada satu kuntum cantik, dialah Kaylila
Sedangkan di gerbangnya, ada si lusuh
Saat terpaut pandangnya
Dengan dalam ia membungkuk kagum
Tersenyum, terpikatlah si pengembara
Lebih baik bagiku, pikirnya
Berkorban untuk si cantik Kaylila
Daripada menyerahkan kurban pada Tuhan.”

Senyum mengambang di wajah cantik Kaylila, dengan kagum ia bertepuk tangan kuat-kuat, sehingga gelang emas di pergelangannya berdentingan.
“Puisi anda sangat memikat, wahai pengembara, dan sesungguhnya tidaklah percuma jika saya memberikan ciuman pada anda.”
Kaylila menarik pengembara itu dengan matanya. Christian mendekatkan wajahnya ke muka Kaylila, melekatkan bibir ke bibirnya, yang merah merekah dan berkilau. Kaylila menciumnya lama sekali, dan dalam keterpukauan yang sebegitu besar, Christian merasakan begitu banyak yang Kaylila ajarkan kepada dirinya, sungguh betapa pandainya wanita itu, bagaimana ia mampu menguasai seorang pria, mengalahkannya, menariknya, dan bagaimana dari satu ciuman yang lama itu, sebuah rangkaian panjang ciuman lain yang kesemuanya akan berbeda-beda telah menanti dirinya. Christian berdiri tegak dan menarik napas dalam-dalam. Pada detik itu, dia merasa bagaikan seorang anak kecil yang melihat suatu keajaiban dengan datangnya suatu pengetahuan dan pelajaran yang tidak terlipatkan di depan kedua matanya.
“Puisi anda begitu indah.” Kata Kaylila. “Jika aku kaya, aku akan membayar puisi itu. Tetapi sulit bagimu untuk memperoleh uang sebanyak yang anda inginkan jika hanya dari puisi. Karena anda akan butuh banyak sekali uang jika ingin berteman dengan Kaylila.”
“Betapa hebat ciumanmu, Kaylila.” Christian tergagap.
“Sudah tentu, itulah sebabnya aku tidak akan kekurangan dalam pakaian, sepatu, gelang, serta segala bentuk dan jenis benda indah. Tetapi apakah yang akan engkau lakukan? Tidakkah engkau mampu melakukan hal lainnya selain berpikir, berdoa atau membuat puisi?”
“Aku tahu nyanyian-nyanyian,” Kata Christian. “Tetapi aku tidak ingin menyanyikan lagu-lagu. Aku mengetahui doa-doa dan mantra-mantra, tetapi aku tidak ingin mengucapkannya. Aku telah membaca banyak buku dan alkitab ....”
“Tunggu,” Sela Kaylila. “Engkau bisa membaca dan menulis?”
“Tentu saja aku bisa. Banyak orang dapat melakukannya.”
“Tidak bagi kebanyakan orang miskin, apalagi seorang pengembara. Sangat baik jika engkau dapat membaca dan menulis. Bahkan kelak engkau pasti akan membutuhkan mantra-mantra itu.”
Saat bersamaan seorang pelayan mengetuk pintu, masuk dan membisikkan sesuatu pada nyonya rumah.
“Aku kedatangan tamu,” Kata Kaylila. “Temui aku besok hari di kota. Sekarang cepatlah pergi dari sini, tidak seorangpun boleh mengetahui bahwa engkau ada di sini.”
Lalu, Kaylila memerintahkan kepada pelayan untuk memberi baju putih dan celana yang bersih kepada Christian. Tanpa sedikit pun mengetahui apa yang terjadi, Christian diantarkan pelayan itu meninggalkan rumah, mengitari kebun, diberi pakaian, lalu dibiarkannya memasuki hutan di sisi kebun. Dengan burur-buru diperintahkannya agar meninggalkan kebun tanpa dilihat orang.
Dengan penuh kegembiraan ia melakukan semua itu. Hutan bukan hal baru baginya, ia berjalan dengan sangat tenang ke luar kebun. Dengan senyum ia kembali ke kota dengan pakaian yang sudah dilipatnya.
Sesampainya di kota, di salah satu warung makan, ia berdiri di pintunya. Dengan diam dia meminta makanan, dan dengan diam pula diterimanya sepotong roti kering. Barangkali besok pagi, pikirnya, aku tidak perlu lagi mengemis makanan.
Tiba-tiba persaan bangga merasuki jiwa dan pikirannya. Ia merasa bukan lagi seorang pengembara. Dia tidak perlu lagi mengemis-ngemis. Lalu, ia memberikan sepotong kue kering itu kepada seekor anjing dan melewatkan malam itu tetap tanpa makanan.
Kehidupan pada dasarnya berjalan dengan sangat sederhana, pikir Christian. Tidak mengalami sebentuk kesulitan apapun. Ketika aku menjadi seorang musafir, semuanya serba sulit, menjengkelkan dan akhirnya tanpa harapan. Kini segalanya serba mudah, semudah petunjuk dari ciuman yang diberikan Kaylila. Aku memerlukan pakaian dan uang. Itu saja. Ini semua tujuan yang gampang yang tidak akan mengganggu tidur seseorang.
Sejak itu ia mulai menanyakan rumah Kaylila yang ada di kota, dan mengunjunginya keesokan hari.

***

“Segalanya berjalan lancar.” Kaylila berbicara kepadanya. “Yohanes mengharapkan kedatanganmu. Dia merupakan pedagang terkaya di kota ini. jika engkau bisa menyenangkan hatinya, engkau bisa bekerja dengannya. Pandai-pandailah, tampan! Telah aku sampaikan namamu melalui orang lain. Baik-baiklah kepadanya, karena dia terlalu berkuasa. Tetapi jangan juga engkau menjadi terlalu rendah hati. Saya tidak ingin jika engkau menjadi pelayannya. Melainkan menjadi sama derajatnya. Kalau tidak, saya tidak akan senang kepadamu. Yohanes mulai menjadi tua dan lamban. Jika engkau bisa menyenangkan hatinya, dia akan menaruh kepercayaan yang besar kepada anda.”
Christian berterima kasih lalu tersenyum. Dan saat Kaylila mengetahui Christian belum makan hari ini dan sebelumnya, Kaylila segera memerintahkan pelayan untuk membawakannya roti dan buah-buahan, serta semangkuk kari untuk diberikan pada Christian.
“Engkau beruntung.” Kata Kaylila kepadanya ketika berpamitan. “Satu pintu dan lainnya terbuka dengan cepat bagimu. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Apakah engkau mempunyai pesona?”
Christian berkata, “Kemarin aku mengatakan kepadamu tentang berpikir, menunggu, puasa, bersabar dan berdoa, tetapi bagimu itu menjadi hal yang tidak berguna. Engkau akan melihat bahwa semuanya sangat berguna, Kaylila. Anda akan melihat bahwa pengembara dungu di dalam diri ini telah belajar dan mengetahui banyak hal yang berguna. Sebelum bertemu denganmu, aku adalah seorang pengemis yang tidaklah terpelihara. Tetapi kemarin, aku telah mencium bibir seorang Kaylila yang kecantikannya begitu menggetarkan, dan segera aku juga akan menjadi pedagang kaya yang mempunyai uang, serta seluruh barang yang engkau hargai.”
“Baiklah.” Kaylila menyetujuinya, “Tetapi bagaimana engkau akan memperoleh makanan tanpa diriku? Dimanakah engkau akan tinggal bila Kaylila tidak menolongmu?”
“Kamala, cintaku,” Kata Christian, “saat aku datang dan berdiri di gerbang kebunmu, sesungguhnya saat itu aku telah membuat langkah pertama. Telah sepenuhnya menjadi keinginanku untuk mempelajari cinta dari seorang wanita paling cantik. Sejak aku membuat ketetapan dalam hatiku, aku juga harus mengetahui bahwa aku akan melaksanakannya. Aku segera mengetahui bahwa engkau akan membantuku. Aku tahu dari pandangan pertamamu saat aku di pintu masuk itu.”
“Jika aku tidak menyukaimu?”
“Tetapi engkau suka, bukan? Dengarkan, Kaylila, cara tercepat untuk sampai ke dasar air adalah menjadi batu yang terlempar ke dalamnya. Sama saja dengan saat engkau menyatakan sebuah niat, tujuan, atau maksud. Engkau harus berpikir, menunggu, berpuasa, bersabar dan berdoa. Engkau perlu mengkaji masalah-masalah dunia seperti batu menembus air, tidak perlu melawan, dan biarkan orang lain yang melakukannya. Batu itu membiarkan dirinya ditarik dan jatuh. Dia akan ditarik oleh tujuannya, karena sepenuhnya dia tidak akan membiarkan segala bentuk hal yang menentang tujuannya memasuki pikirannya. Itulah aku pelajari saat aku menjadi musafir. Lalu oleh orang-orang tolol hal seperti itu akan disebut sebagai sihir, pemikat, pelet, dan seolah mereka anggap itulah keajaiban. Tidak ada keajaiban. Setiap orang mampu menampilkan sihir itu. Setiap orang mampu mencapai tujuannya, jika ia mampu berpikir, menunggu, bersabar dan berdoa.”
Kaylila mendengarkan setiap kata dari bibirnya. Dia mencintai suara Christian. Dia mencintai bagaimana Christian melepaskan pandangan matanya.
“Mungkin saja semua itu terjadi sebagaimana yang engkau katakan,” Ujar Kaylila dengan lembut, “dan, barangkali itu juga disebabkan oleh Christian, seorang pria yang begitu gagah, yang pandangannya mampu menyenangkan hati setiap wanita. Engkau benar-benar beruntung.”
Christian menatap hangat Kaylila dan bibirnya. Mereka berciuman beberapa saat. “Mudah-mudahan demikian, guruku. Mudah-mudahan pandanganku mampu menyenangkan hatimu. Mudah-mudahan akan ada banyak keberuntungan datang padaku melalui dirimu.” Sekali lagi dirinya merasakan manisnya bibir Kaylila, lalu mereka berpisah.

Sep 2, 2011

Zahra Syah

Daughter Number Three is mean Flower Crown

Name : Kayla Zahra Affifah Syah
Born : Yogya, 10 Februari 2011

Born at : SEMAR Hospital, Babarsari, Yogyakarta at 04:00 WIB

"Namanya terdiri dari 3 makna. Kayla bermakna Mahkota dan Zahra Bunga. Kedua makna ini menjadi satu, Mahkota Bunga adalah benda yang akan melekat di kedua kepala Kakak-kakaknya sebagai Putri dan Ratu, berharap dia akan menjadi pengingat bagi kedua kakaknya bahwa kehidupan harus dijalani dengan bijaksana. Bukan Mahkota dari Emas atau Berlian yang penuh kemilau dan keserakahan, melainkan bunga yang menebarkan aroma wagi dan kelembutan. Kayla sendiri berasal dari bahasa ibrani atau dasar dari bahasa Yahudi yang juga menjadi garis dari keturunan Ishak As hingga Isa As, sedangkan Zahra dari Bahasa Arab yang bermuara dari garis Ismail As dan berakhir pada Rasulullah Muhammad SAW, berharap kelak dia akan menjadi anak yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap toleransi beragama dimana namanya adalah penyatuan dari Ishak As dan Ismail As, dua putra dari Ibrahim As yang menjadi awal garis keturunan para Nabi dan Rasul Allah SWT. Affifah berarti yang mempunyai harga diri, berharap kelak apapun yang dihadapinya dia tidak akan menggadaikan harga dirinya. Syah adalah nama dari ayahnya."

Ratu Syah

Ladies Number Two is The Queen

Name : Nabila Ratu Affifah Syah
Born : Yogya, 12 September 2003

Born at : Tegalrejo Clinic at 10.30 WIB

"Namanya terdiri dari 3 makna. Nabila berarti yang pintar atau cerdas, berharap kelak dia akan pintar, cerdas dan bijaksana dalam menjalani hidup ini. Ratu berarti Ibunda Negara atau kerajaan, berharap kelak dia akan mengayomi banyak orang, menjaga keselarasan dan keseimbangan. Affifah berarti yang mempunyai harga diri, berharap kelak apapun yang dihadapinya dia tidak akan menggadaikan harga dirinya. Syah adalah nama dari ayahnya."

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More